January, 2012

now browsing by month

 

Biarkan saya kembali menggambar

20120129-232247.jpg

20120129-232322.jpg

20120129-232258.jpg

Sudah lama sekali saya tidak menggambar karena banyaknya pekerjaan yang menggila akhir-akhir ini. Sekalinya nyoba gambar lagi, tangan saya kaku. Garis-garis dan lekukan-lekukan yang saya buat jadi nggak luwes lagi. Sediiih… :((

Oke,Jadilah saya mencoba membiasakan diri untuk kembali menggambar. Saya suka membuat lekukan2 motif dari garis dan titik.Tanpa pola. Jadi semua berdasarkan mood aja.Seni kan media ekspresi.Jadi ya sah-sah aja sebenernya. Saya memang suka menggambar sejak kecil. Saking sukanya, saya suka menggambar dimana-mana. Di kertas,kayu,meja,tembok,genteng rumah,di tangan, dan yang paling ekstrim….. Di kaki teman saya.Ahahaha….

20120202-131042.jpg

Biarkan saya kembali menggambar

20120129-232247.jpg

20120129-232322.jpg

20120129-232258.jpg

Sudah lama sekali saya tidak menggambar karena banyaknya pekerjaan yang menggila akhir-akhir ini. Sekalinya nyoba gambar lagi, tangan saya kaku. Garis-garis dan lekukan-lekukan yang saya buat jadi nggak luwes lagi. Sediiih… :((

Oke,Jadilah saya mencoba membiasakan diri untuk kembali menggambar. Saya suka membuat lekukan2 motif dari garis dan titik.Tanpa pola. Jadi semua berdasarkan mood aja.Seni kan media ekspresi.Jadi ya sah-sah aja sebenernya. Saya memang suka menggambar sejak kecil. Saking sukanya, saya suka menggambar dimana-mana. Di kertas,kayu,meja,tembok,genteng rumah,di tangan, dan yang paling ekstrim….. Di kaki teman saya.Ahahaha….

20120202-131042.jpg

Biarkan saya kembali menggambar

20120129-232247.jpg

20120129-232322.jpg

20120129-232258.jpg

Sudah lama sekali saya tidak menggambar karena banyaknya pekerjaan yang menggila akhir-akhir ini. Sekalinya nyoba gambar lagi, tangan saya kaku. Garis-garis dan lekukan-lekukan yang saya buat jadi nggak luwes lagi. Sediiih… :((

Oke,Jadilah saya mencoba membiasakan diri untuk kembali menggambar. Saya suka membuat lekukan2 motif dari garis dan titik.Tanpa pola. Jadi semua berdasarkan mood aja.Seni kan media ekspresi.Jadi ya sah-sah aja sebenernya. Saya memang suka menggambar sejak kecil. Saking sukanya, saya suka menggambar dimana-mana. Di kertas,kayu,meja,tembok,genteng rumah,di tangan, dan yang paling ekstrim….. Di kaki teman saya.Ahahaha….

20120202-131042.jpg

Nama lo kepanjangan, Boo!

Banyak orang yang bilang kalau saya nerd, aneh. Karena betah seharian berada di dalam kamar hanya untuk membaca, belajar, atau menghafal hal-hal yang nggak penting lainnya (kadang saking nggak pentingnya, hal-hal yang penting malah malas saya hafal ahaha). Saya bukan pembaca buku yang baik. Karena sering tiba-tiba ketiduran pas lagi baca. Makanya butuh berhari-hari kalau mau nyelesaiin membaca satu novel. Bahkan novel yang tipis sekalipun (Hah!Penulis macam apa kamu!!!). But anyway, saya termasuk orang yang menganggap bahwa kecerdasan lebih kece dari kepintaran. Ah, you know what I mean, galz!

img_0713

Kemarin saya sempat emosi ketika salah satu sahabat saya, cewek, cerita kalau dia baru saja diputusin pacarnya karena cowoknya menganggap bahwa dia ‘kurang ‘ pintar lantaran sahabat saya itu memilih untuk tidak melanjutkan kuliah karena dia lebih menyukai pendidikan non-formal yang menurutnya lebih bisa mengolah ketrampilannya. Itu pilihannya yang patut dihargai. Dan kenyataannya dia memang sangat sukses dengan pilihannya itu.

Kalian boleh menganggap saya terlalu feminis atau apapun. Dan bukan saya menganggap kalau pendidikan formal (kuliah) tidak terlalu penting untuk cewek, tapi saya akan emosi kalau ada orang yang menjatuhkan orang lain hanya karena tingkat pendidikan dan harta. Atau yang lebih parahnya terlalu pamer title seperti yang terjadi belakangan ini (you know lah;).

“Cewek yang mengambil pendidikan setinggi-tingginya dan jadi wanita karier, itu adalah HAK-nya bukan kewajiban. Kewajibannya ya mengurus keluarga dan mengurus suami. Pendidikan tinggi dan karier itu cuma BONUS buat suaminya sebenarnya. Dan pacar kamu seharusnya malu merendahkan kamu dengan masalah pendidikan cewek. Karena seharusnya dia yang berusaha meraih pendidikan setinggi-tingginya untuk bekal masa depan dia ketika berkeluarga. Masa iya dia nanti mau bergantung sama istrinya. Enak di dia nggak enak di kamu! ”

Itu kata-kata yang saya ucapkan pada sahabat saya dengan penuh emosi. Saya selalu semangat 45 kalau disuruh nyemangatin cowok-cowok biar bisa meraih pendidikan tinggi gimana pun caranya. Kakak saya salah satu korban saya hehe… emang faktanya sekarang, semakin tinggi pendidikan seseorang, maka dia akan semakin dihargai. Tapi intinya kan, titel itu memang nggak menjamin kehidupan jadi lebih baik. Tapi titel bisa membuat kita punya pilihan dan peluang yang lebih banyak. Semua tergantung dari orangnya masing-masing. Dan inget, belajar itu nggak ada batasnya, Genk!

nerd1

Percuma juga kalau titel di namanya panjang kayak kereta api tapi orangnya males-malesan dan gampang putus asa ya sampe bego nggak bakalan sukses. Beda banget sama orang yang nggak punya titel tapi dia pekerja keras dan pantang menyerah. Dia pasti akan lebih sukses. Tapi paling gokil kalau berjalan seimbang. Titel panjang, semangat oke, dan nggak gampang nyerah. Asal jangan justru kebalikannya hahaha….

Saya sangat appreciate dan salut sama orang yang berhasil meraih pendidikan tinggi. Karena emang meraih pendidikan tinggi nggak segampang ngomong. Ada banyak faktor yang bikin itu semua nggak bisa diraih. Salah satunya ya masalah biaya pastinya. Tapi selama ada kemauan, semuanya pasti bisa terlaksana. Bisa dengan kerja part-time (seperti yang dilakukan sepupu saya. Dan seriously dia bisa lulus sarjana dari hasil kerja part-timenya ini) atau mencari beasiswa dimana-mana.

Setahu saya, kalau di Amerika ada yang namanya sistem pinjaman untuk mahasiswa. Dimana mahasiswa itu meminjam dana untuk biaya kuliah pada kampus mereka yang sudah kontrak dengan sebuah perusahaan tempat mahasiswa itu bekerja. Jadi setiap kali mahasiswa itu dapat gaji, akan langsung dipotong untuk melunasi pinjaman mereka. Sebenernya sistem ini bisa bikin mahasiswa jadi mandiri dan belajar kerja keras. Tapi nggak tau kenapa sistem ini jarang banget di negara kita. Takut pada ngabur kali ye…haha…

So, menurut kalian titel di nama itu penting nggak, sih? Mungkin kutipan ini bisa jadi jawabannya.
“Kalau titel professor di nama saya diambil, saya juga nggak apa-apa. Karena ilmunya kan ada di otak, bukan di titel.” – B.J Habibie

God Save The Punk

20120123-020325.jpg

Tshirt yang saya pakai dalam foto ini bertuliskan GOD SAVE THE QUEEN, salah satu judul lagu band punk legendaris Sex Pistols. Yaps, beberapa pekan yang lalu saya membaca sebuah berita di internet mengenai penangkapan dan penggundulan anak-anak punk di Aceh oleh polisi syr. Saya sengaja nulis topik ini di blog supaya mungkin bisa dijadikan satu pandangan baru buat kalian. Ini cuma sebatas pendapat dari kacamata saya lho… Jadi kalau ada yang berbeda pendapat dengan saya ya monggo aja hehe…

Terus terang saya kaget banget dengan penangkapan dan penggundulan anak2 punk di Aceh itu.Kenapa?karena mereka ditangkap dengan alasan yang menurut saya agak aneh bin ajaib: Karena mereka BEDA… <—what the hell???beda? Ingatkah kalian dengan Bhineka Tunggal Ika?Pantesan aja nilai toleransi kurang banget di negara kita ini.Lha wong, masih ada yang nggak bisa menerima perbedaan. Menurut berita yang saya baca, penangkapan itu terjadi ketika mereka selesai nonton konser. Hey,saya juga suka nonton acara musik punk.Kalo misalnya saat itu saya nonton,berarti saya juga ikutan ditangkep dong?HeekK! Apakah saat ini nonton konser termasuk kriminalitas? *mikir sambil megang2 janggut Alasan mereka lainnya adalah karena anak-anak punk sering malak,mabok,dan semua yg negatif. Oke, misalkan ada kasus pencurian dan kebetulan pencurinya adalah siswa sebuah SMU.Trus apa kita bisa langsung men-judge kalo SMU itu pencuri semua?haha…*ngakak sampai guling2. Apa karena penampilan anak2 punk dengan atribut rantai, rambut mohawk, celana ketat dan piercing adalah alasan orang2 menyamaratakan mereka negatif?Weiits,trus apa kabarnya penipu dan koruptor yang ngabisin uang rakyat dimana justru dilakukan oleh oknum berdasi dan berjas? Saya memang bukan orang memahami soal budaya punk. Meskipun saya juga penikmat musik Bunga Hitam, Rancid, SID, Sex Pistols,dll. Tapi beberapa teman saya ada yang memang punk jalanan dan mereka asik2 aja. Bahkan berteman baik dengan saya. Kami saling menghargai.Saya respect terhadap hidup yang mereka pilih, dan mereka juga respect terhadap saya. Buat mereka jalanan adalah kehidupan tempat mereka belajar,bersahabat, dan menyuarakan kebebasan. Yeah, masing2 orang punya cara belajar yg beda2 khan? Dan satu hal yang saya salut dari mereka adalah mereka nggak pernah lari dari masalah.Setiap ada masalah selalu dihadepin sampai beres.Beda banget sama orang2 kebanyakan yg doyan lari dari masalah.Cupu! Beberapa sumber yang saya baca menerangkan kalau street punk muncul di Inggris pada tahun 1980-an, Pada zaman itu, pabrik-pabrik menutup lowongan pekerja bahkan memecat banyak karyawannya dengan alasan efesiensi, masyarakat kelas pekerja menggunakan jalanan sebagai tempat mencari nafkah, membuat jejaring-kerja, serta aksi protes yang diselingi karnaval dan musik. Inilah awalnya punk jalanan. Oiya, saya jadi ingat sebuah peristiwa yang pernah saya lihat di dalam bus trans jakarta. Dan ini mungkin bisa merubah image anak punk yang negatif selama ini. Jadi waktu itu saya sedang menunggu bus di shelter.Saya melihat seorang cowok dengan rambut mohawk, celana ketat dan piercing, ikut menunggu. Ketika ia duduk di dalam bus, nggak ada satu orang pun yang berani duduk deket dia karena penampilannya.Saya yang kebetulan saat itu terlanjur duduk di kursi lain hanya jadi penonton ketika seorang wanita ragu untuk duduk di sebelah cowok itu. Dan…. cowok punk itu melihat ke wanita tadi sambil ngomong,”Mbak, nggak usah takut sama saya. Saya bukan orang jahat.” akhirnya si wanita tadi duduk di sebelahnya. Sepanjang perjalanan, cowok itu ngomong panjang lebar tentang punk.Salah satunya yang saya dengar dia ngomong, “Saya memang nyamannya penampilan kayak gini, mbak. Sebenernya kami bukan orang jahat.Cuma kebanyakan orang bawaannya curiga aja.” Dan amazing, cowok itu berhasil membuat banyak orang dalam bus trans mendekat ke arahnya dan mulai bertanya2 soal budaya punk.Dan orang itu menjawab dengan santai.Terjadilah diskusi yg asik selama perjalanan. See…intinya adalah don’t judge the book by its cover. Belajarlah untuk menghargai perbedaan.Bukankah hidup bakalan nggak monoton kalau berwarna-warni?