January, 2011

now browsing by month

 

Education for All

hud

“Cita-cita kamu apa?”
“Saya pengen jadi dokter yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa.”
Yap, itu jawaban saya ketika ditanya tentang cita-cita saya dimasa kecil. Memang ketika itu cita-cita menjadi dokter, insinyur, professor sangat bergensi dimata anak-anak usia saya. Tapi menjadi dokter jiwa? Itu bukanlah hal yang wajar diucapkan oleh anak seusia saya waktu itu. Sama halnya dengan cita-cita menjadi guru yang acap kali dianggap tidak bergengsi dimata orang tua dan anak-anak pada masa itu. Wajar memang mengingat kondisi guru saat itu yang sangat memprihatinkan dimata saya *membawa tissue sambil bercucuran air mata.
Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi saya mengenyam pendidikan selama bertahun-tahun di sekolah formal dari mulai TK-Kuliah. Jadi kalau memang ada diantara kalian yang merasa kalau tulisan saya ini nggak sesuai sama apa yang terjadi dengan kalian. Ya maap, namanya juga pengalaman pribadi hehehe… (piss men!)
Saya merasa cukup beruntung karena saya pernah berada di 2 lingkungan sekolah yang berbeda, swasta dan negeri. Yang kemudian membuat saya memiliki pandangan tersendiri dalam sistem pendidikan di Indonesia.
Satu hal yang paling mencolok *wadaaaw mata gw!* di dalam sistim pendidikan di Indonesia adalah adanya diskriminasi disana. Disamping banyak hal lain diluar itu. Sangat ironis mengingat target EFA (Education for All) yang merupakan kesepakatan negara-negara di dunia adalah tahun 2015. Oke, saya akan mulai membahasnya satu per satu masalah pendidikan dari kacamata saya.

#Orang miskin nggak boleh pinter#
Saya heran kenapa biaya pendidikan terus meningkat setiap tahunnya. Belum lagi semua atribut pendidikan di sekolah-sekolah baik swasta maupun negeri (termasuk seragam dan buku pelajaran) terus berubah dari tahun ke tahun, sehingga murid-murid baru terpaksa membeli atribut baru dari pada kena hukuman di sekolah. Menurut saya ini adalah kekerasan psikologis bagi siswa yang kebetulan berasal dari golongan menengah kebawah. Banyak dari golongan masyarakat kurang mampu menggunakan atribut pendidikan secara turun temurun. Sehingga hal yang serba ‘baru’ yang diterapkan sekolah sangat menyudutkan mereka. Padahal terkadang 1 buah buku pelajaran harganya bisa sama dengan pendapatan mereka sebulan *it’s true.
Belum lagi iuran-iuran dadakan yang sering terjadi di sekolah-sekolah termasuk sekolah negeri. Memang, untuk masyarakat kurang mampu biaya sekolah ditanggung oleh APBD dan APBN melalui BOS. Namun sebagian masih harus ditanggung oleh orang tua murid. Dan kasus yang juga banyak terjadi belakangan ini adalah ketidakmampuan orang tua murid dalam membayar setengah biaya tersebut sering membuat sekolah sengaja menahan ijasah maupun raport murid itu. Terlihat jelas diskriminasi bagi kaum miskin disini.

#Ujian Nasional#
Entah sudah berapa kasus bunuh diri di kalangan remaja terjadi akibat tidak lulus ujian nasional. Mungkin saya termasuk orang yang tidak setuju dengan diadakannya UN di Indonesia ini. Karena sistem ini tidak sesuai dengan kebutuhan pragmatis dimasa depan dan perbedaan masing-masing individu. Kenapa? Karena mana mungkin tiga tahun menjalani sekolah di SMU hanya dinilai dengan satu kali ujian akhir yang berisi pilihan jawaban yang telah ditentukan: a,b,c, atau d. Dan memiliki satu jawaban yang dianggap benar. Lalu bagaimana jika murid memiliki pandangan lain atau jawaban lain yang lebih masuk akal? Bagaimana seorang murid dapat berpikir kritis dan kreatif jika sejak kecil mereka selalu dihadapkan dengan kebenaran yang bersifat ‘tunggal’? Kalau begitu buat apa kita sekolah selama tiga tahun? Mendingan juga sekolah sebulan saja untuk belajar menghadapi ujian hahaha…
Saya lebih setuju jika ujian hanya dilakukan bagi mereka yang memerlukan, atau untuk memasuki jenjang lebih tinggi yang dilakukan di awal. Bukannya malah menjadi momok yang menakutkan setelah tiga tahun jungkir-balik bersekolah *sambil menyayat-nyatat tangan 😀

#Lingkungan#
Seorang teman bercerita bahwa dia mengikuti program homeschooling hingga SMP. Ketika saya tanya alasannya, dia menjawab kalau di sekolah ia mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Dan ia tidak kuat terus-terusan ditindas seperti itu. Jawaban teman saya itu membuat saya mengingat masa sekolah saya dulu. Diskriminasi terhadap golongan minoritas memang begitu terasa disana. Terutama di sekolah swasta. Golongan minoritas yang dimaksud disini adalah murid-murid yang tidak ‘kaya’, tidak ‘gaul’ atau tidak ‘keren’ di sekolah tersebut. Sehingga mereka menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Siapa sih yang ingin menjadi bahan tertawaan setiap harinya. Bahkan terkadang guru-guru pun tidak bisa bertindak lebih tegas mengatasi hal ini. Padahal jelas-jelas murid-murid di sekolah tersebut memiliki hak yang sama dalam memperoleh fasilitas dan pendidikan *orang sama-sama bayar!

Saya jadi teringat ketika sewaktu SMP saya menggunakan sepatu yang saya beli di pasar Mayestik sementara teman-teman saya menggunakan sepatu bermerk luar. Saya sering merasa dilecehkan secara tidak langsung. Meskipun hanya sebuah bercandaan. Tapi kalau terlalu sering kan ngenes juga ya? Hingga saya menangis dalam hati karena sayapun tak tega meminta dibelikan sepatu bermerk oleh orang tua saya yang memang berstatus ekonomi biasa-biasa saja. Mungkin hal ini terjadi di banyak siswa seperti saya pada waktu itu.
Dalam hal ini dibutuhkan peran serta orang tua yang lebih mengerti bagaimana kondisi lingkungan anak-anak mereka di sekolahnya. Sehingga mereka bisa menentukan dimana seharusnya anak mereka ditempatkan untuk kebaikan anak itu sendiri.

#Guru=Panutan#
Saya beranggapan bahwa seorang pendidik yang baik harus mampu bersikap netral *piss.Lho?! itu bukannya slank ya?Wooi ini netral bukan slank!* dalam mendidik murid-muridnya. Ia harus tegas dan bisa memberikan pandangan-pandangan yang dapat membuat murid-muridnya memilih sendiri kebenaran sebenarnya. Ya, bisa dibilang guru versi saya adalah seorang fasilitator yang membantu murid-muridnya memiliki pandangan dan pilihan untuk masa depan mereka bukan malah menghakimi mereka. Fungsi guru bukan hanya sekedar penceramah di kelas, tapi bisa sebagai teman diskusi bagi murid-muridnya. Sehingga bisa bersama-sama menyelesaikan masalah pendidikan. Tapi sayangnya, kenyataannya banyak sekali pendidik yang tidak bisa menerima pendapat para muridnya. Ironis.

Saya teringat ketika sewaktu kuliah, saya sempat mengunjungi 20 lebih sekolah di Indonesia untuk share mengenai bagaimana menulis kreatif dan mengajar tentang bagaimana memproduksi majalah. Kesimpulan yang bisa saya ambil saat itu adalah, yup! Murid-murid SMP-SMU sangat butuh seorang pendidik yang mengerti akan kebutuhan mereka. Bukan malah membuat mereka takut. Mereka butuh tempat dimana mereka bisa nyaman bertanya dan bercerita. Bertanya apakah yang telah mereka lakukan itu benar atau salah. Mereka butuh motivator yang unggul untuk membuat mereka berani mengambil sebuah keputusan dalam kehidupan.
Oiya, satu hal lagi pertanyaan yang berhasil saya temukan jawabannya kemarin melalui browsing di Internet. Kenapa pendidikan di Korea-Selatan lebih cepat meningkat dibandingkan dengan Indonesia? Jawabannya adalah bahwa profesi guru (terutama guru SD) di Korea Selatan lebih bergengsi dibandingkan profesi apapun disana. Meskipun gaji guru disana tidak jauh lebih tinggi, namun ada pride tersendiri menjadi seorang guru di negara tersebut. Beda banget kan sama di negara kita ini?*uhuk-uhuk, nggak usah saya jelaskan alasannya, kalian juga udah tau kenapa hahaha…

Hal yang saya ungkapkan diatas hanyalah sebagian kecil dari permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalam sistem pendidikan di Indonesia. Diluar kasus yang lebih menjelimet lagi seperti politik, KKN, dll *maaf saya ogah ngomongin masalah itu. Bikin kesel aja!
Sudah sepantasnyalah pemerintah membenahi permasalahan ini jika target EFA 2015 memang betul-betul ingin dicapai. Dan untuk masyarakat, *seperti yang pernah saya utarakan di postingan sebelumnya, kalau kalian menganggap pemerintah terlalu lamban untuk mengatasi masalah ini, berarti kalian lah yang harus melakukan sesuatu untuk mencerdaskan bangsa ini. Jangan hanya bisa mengeluh. Mungkin sekolah alternative bisa dijadikan sebuah solusi yang cukup baik. Sekolah dimana kebutuhan pendidikan murid lebih penting.

Pendidikan yang baik haruslah dapat merangkul seluruh lapisan masyarakat. Termasuk masyarakat marginal secara intelektual, sosial, fisik, atau mental. Karena tidak ada landasannya pendidikan harus membuang atau mendiskriminasikan orang-orang hanya karena mereka memiliki kekurangan fisik, materi, atau kurang ‘pintar’. Jujur saja, saya mungkin termasuk golongan tersebut. Saya tidak mudah memahami pelajaran di kelas. Saya harus ekstra belajar kalau saya ingin memahami suatu pelajaran. Percaya deh, itu tidak mudah. Saya mungkin memang tidak secerdas kalian. Tapi saya ingin menjadi cerdas. Dan saya ingin setiap orang di dunia ini seperti itu. Karena pendidikan adalah untuk semua

“Next, cita-cita elo apa?”
“Gue pengen jadi guru. Ya, guru untuk semua. Termasuk guru bagi diri saya sendiri. ”