December, 2010

now browsing by month

 

Garuda di Dada

Piala AFF tahun ini membuat saya seperti mendapatkan sebuah kuliah kepribadian gratis. Mungkin sepak bola adalah satu-satunya olahraga yang sempat membuat saya bercita-cita menjadi seorang ‘cowok’ saat duduk di bangku sekolah dasar. Dan membuat Mama sempat nyaris berteriak “Oh My God, what’s wrong with my girl?” wkwkwk….

Ajax Amsterdam adalah tim sepak bola pertama yang saya sukai waktu itu. Kalau tidak salah usia saya masih delapan tahun pada masa itu.
Entah energi apa yang ada di dalam olahraga itu, tapi saya sangat senang melihat sebuah kerjasama tim, semangat, kekecewaan,penyesalan dan kebahagiaan di setiap pertandingan sepakbola. Hingga disaat murid2 cewek sibuk mengaku haid setiap pelajaran olahraga, saya justru asik menjadi striker, bermain bola dengan murid cowok. Saat itulah saya merasa tersisihkan ketika kedua tim cowok itu tidak ingin ada seorang cewek bergabung di tim mereka ?.

Ketika SMP, saya juga masih menyukai sepak bola. Namun tim kesukaan saya ketika itu bukan lagi Ajax melainkan Juventus.Karena pada saat itu Juve memiliki pemain-pemain yg sangat bagus menurut saya. Bukan saja di bagian depan, namun dari setiap lini pertahanan. Untuk masalah pemain, saya termasuk yang cukup objektif. Saya akan mengakui jika pemain yang saya sukai/tidak saya sukai bermain bagus. Prinsip saya, tampang ganteng nggak selalu main bagus juga, kan?
Bahkan saat itu saya menjadi penggemar fanatik Juventus. Segala atribut yg saya miliki bertema Juventus. Bahkan saya selalu mengumpulkan kliping dan menggambar strategi permainan di setiap pertandingannya. Bola sepak pun ada di dalam kamar saya beserta dengan kaos bernomer punggung 9 yang pada saat itu dimiliki oleh Fillipo Inzaghi. Hingga kamar saya waktu itu lebih terlihat ‘cowok’ dibandingkan dengan kamar kakak saya yang memang laki-laki tulen:p.

Kurniawan dwi yulianto dan Bambang Pamungkas adalah dua pemain yang membuat saya mulai perduli dengan persepakbolaan di tanah air. Saya sering menonton permainan mereka di beberapa kali pertandingan. Tetapi saya sempat kehilangan mereka disaat persepakbolaan Indonesia kembali surut. Dan anehnya bukan sepenuhnya karena permainan Timnas yang kurang baik. Tapi justru karena ulah supporter yang cukup memalukan menurut saya. Rusuh! Ya, hanya itu kata yang selalu diidentikan dengan persepakbolaan di tanah air. Rusuh!

“Jangan pergi-pergi dulu, ada sepakbola di stadion,” itulah kata-kata klise para Ibu, termasuk orang tua saya, kepada anaknya pada saat itu. Seakan pertandingan sepak bola bukanlah sebuah kompetisi sportifitas melainkan sebuah perang yang wajib dihindari.

Piala AFF tahun ini membawa perubahan besar di dunia persepakbolaan Tanah Air. Mendadak semua orang tahu bola. Mendadak semua orang menyerbu atribut supporter, dan mendadak orang-orang dari segala lapisan masyarakat, dari segala usia berbondong-bondong mendatangi Gelora Bung Karno untuk menonton Timnas berlaga. Ada apa dengan Timnas kita saat ini?
Mungkin pertanyaan saya terjawab ketika untuk pertama kalinya saya melihat penampilan Timnas di laga pertamanya di piala AFF. Jujur, saya menontonnya saat kebetulan acara favorit saya di stasiun tv lain sedang iklan:P Dan ketika itu pula untuk pertama kalinya saya menonton kembali penampilan Timnas setelah bertahun-tahun saya malas menonton.
Saat itu saya bengong. Edan!Berapa lama saya meninggalkan mereka dan mendadak Timnas bisa menjadi secanggih ini? Semua lini mengisi tempatnya dengan maksimal. Ini baru namanya tim, Bung! Ini yang selama ini saya harapkan di dalam Sepakbola Indonesia. Tidak ada yang namanya bintang tunggal. Semua adalah Bintang. Dan ini luar biasa.

Sejak hari itu, saya mengikuti penampilan Timnas di laga-laga berikutnya di piala AFF. Saya memerhatikan setiap detail pertandingan mereka sama ketika saya memerhatikan Juventus bertanding. Sehingga saya dapat dengan jujur mengatakan seandainya ada pemain yang bermain kurang maksimal. *Yeah, penonton memang hanya bisa mengkritik. So sorry for that..

Namun semakin kedepan, saya justru semakin kurang nyaman dengan media yang over exposed terhadap Timnas hingga sampai mengutak-utik masalah pribadi pemain. Banyak juga orang-orang yang sengaja menggunakan Timnas sebagai sarana kepentingan pribadi. Come on people, kenapa sih kita nggak bisa membiarkan semua ini berjalan apa adanya?kenapa sih, kita nggak bisa menjaga agar sepakbola, Timnas, dan olahraga-olahraga lain menjadi sebuah kegembiraan tersendiri untuk Bangsa Indonesia ditengah kekalutan politik, kemiskinan, dll. Kita semua bisa melihat kan, ketika Timnas berlaga, semua orang (tak terkecuali para pemulung, petani, pengusaha, mahasiswa, hingga presiden) pun turut merasakan kegembiraan tersebut dengan menonton untuk menyuport Timnas. Meninggalkan sejenak kepusingan dan kekalutan dunia. Bahkan nonton bareng menjadi ajang solidaritas, toleransi dan reuni untuk warga Indonesia. Please jangan hilangkan kegembiraan itu. Jangan rusak semua itu hanya untuk kepentingan pribadi.

Anyway, diluar itu semua banyak sekali pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kemajuan Timnas Indonesia ini.

#Menumbuhkan Nasionalisme Bangsa Indonesia#
Well, dulu mungkin orang lebih bangga menggunkan atribut negara lain. Tapi sekarang orang-orang nggak malu menggunakan lambang garuda di dada. Belum lagi lagu Garuda di Dadaku yang eksisnya mengalahkan lagu nya Peterpan 😀

#Membantu Perekonomian#
Sekarang lihat aja ke pasar Tanah Abang, dan di kaki lima, kalian pasti akan melihat banyak Garuda dan warna merah-putih di baju yang diserbu pembeli. Otomatis kejayaan Timnas membantu para pedagang kecil untuk meningkatkan pendapatan mereka. Bukannya itu artinya membantu perekonomian rakyat kecil ya?

#Bangsa Indonesia belajar untuk sportif#
Okey, banyaknya supporter Indonesia yang datang ke GBK memang membuat lawan ketar-ketir. As you see, mereka nggak berbuat ulah kepada pihak lawan. Justru malah banyak yang minta foto bareng di hotel *hekk! Dan pastinya, supporter Indonesia bisa menunjukkan kalau kalah-menang bukan masalah. Yang penting adalah rasa Persatuan dan Kesatuannya itu yang membuat sebuah pertandingan bermakna atau tidak.

#Image persepakbolaan Indonesia menjadi baik#
Yes, piala AFF kemarin membuat banyak orang yang semula hanya jadi tukang protes di televisi mendadak datang memenuhi GBK untuk menonton pertandingan Timnas. Dan Ibu-ibu, ABG, bahkan anak-anak tidak takut lagi untuk datang menonton langsung pertandingan sepak bola. Artinya, timbul sebuah harapan baru di dalam diri Bangsa Indonesia saat ini. Harapan bahwa Bangsa ini masih bisa bangkit dari ketepurukan. Masih ada kemungkinan yang akan terjadi. Dan ini berlaku untuk semua aspek dalam kehidupan ini. Tidak hanya di sepak bola saja. Intinya adalah sebelum kita menginjak garis finish, mau bagaimanapun kondisinya, kita masih mempunyai harapan untuk sukses menjadi pemenang.

Mungkin sebuah kekalahan memang meyakitkan, tapi bukankah setiap orang pernah merasa kalah?pernah gagal?Kebanyakan orang memang bersemangat jika memperoleh kemenangan. Tapi lebih banyak orang yang sulit menerima kekalahan dan cenderung mundur. Tapi sesungguhnya tanpa disadari, cara kita menghadapi kekalahanlah yang bisa menentukan seseorang itu merupakan pemenang atau bukan.

Untuk perubahan yang terjadi di negara Indonesia tercinta ini, ijinkan saya untuk berdiri dan bertepuk tangan kepada Timnas Indonesia sebagai ungkapan rasa terima kasih saya kepada mereka. Bagaimanapun, kerja keras kalian yang awalnya hanya untuk meningkatkan persepakbolaan Indonesia di mata dunia, ternyata justru mampu memberikan dampak luar biasa di negara ini. Unity in diversity begitu kental terasa didalam Timnas. Tak ada lagi perbedaan usia, tidak ada lagi perbedaan suku, tidak ada lagi perbedaan agama, semua membaur menjadi sebuah ikatan tim yang solid. Yang bersama-sama bekerja maksimal untuk membela negara. Dan saya tidak akan rela membiarkan kebahagiaan kalian di lapangan dirusak oleh orang-orang egois diluar sana. Orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Meskipun piala AFF belum berhasil kita dapatkan, tapi percayalah, kalian telah memberikan contoh kepada seluruh warga negara Indonesia bahwa semua orang bisa menjadi pahlawan dibidangnya masing-masing. Semua orang bisa ikut mengharumkan negeri ini. Perjuangan tidaklah harus mengangkat senjata dan tetesan darah di medan perang. Perjuangan tidaklah harus seperti yang dilakukan oleh para pahlawan nasional kita. Tapi perjuangan bisa dilakukan dengan senjata kita sendiri, dan di medan perang kita sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Timnas pada final AFF kemarin… “They fight like warriors!!!”

nb: Thanks untuk Mas Bambang Pamungkas atas tulisan blognya yang luar biasa. You’re still my hero,.. our legend.

Sweet Cake on My Day

OK saya akan jujur kalau saya hampir melupakan hari ulang tahun saya sendiri tahun ini. Setiap kali ada orang yang menanyakan kapan saya berulang tahun, saya pasti akan menjawabnya dengan… “Well, everyday is my birthday. So, mau kasih kado?Sini, sini, saya akan dengan senang hati menerima…ahahaha…”

Saya sudah lupa kapan terakhir kali saya merayakan ulang tahun saya. Tunggu, biarkan saya mencoba mengingat *sambil mengetuk-ngetuk kepala dengan mata menatap ke sudut kanan atas* BLASH! Saya benar-benar lupa ahaha.. sepertinya sekitar delapan tahun yang lalu, oh tidak-tidak, sepuluh tahun yang lalu, oh… kayaknya… sembilan tahun yg lalu, oh bukan…lima, eh empat! Fuuuiiih sudahlah lupakan saja… kamu sudah berusaha maksimal untuk mengingatnya *sambil terisak2 sedih karena tanda-tanda penuaan dini. Pikun.*

Satu hal yang tak pernah saya lupakan disetiap ulang tahun saya adalah pelukan mama-papa. Ya, buat saya itu sangat spesial dibandingkan perayaan apapun.Saya ingat betul bahwa ketika itu banyak harapan dan doa disampaikan papa-mama walau hanya diwakilkan dengan sebuah pelukan. Saat itu pula papa-mama tertegun dan menyadari bahwa anak perempuannya sudah semakin dewasa. “Rasanya baru kemarin kamu lulus TK” begitu kata mereka dari tahun ke tahun. How sweet…

Tuhan memang Maha Penyayang. Setiap tanggal 14 Desember, saya selalu mensukuri apa yang telah Tuhan berikan pada saya. Tahun-tahun lalu saya tak pernah perduli kalau orang-orang disekeliling saya melupakan ulang tahun saya. Saya tak perduli kalau dulu pacar saya pun lupa ulang tahun saya dan baru memberikan selamat ketika hari hampir berganti, bahkan saya tak perduli kalau tidak ada perayaan spesial di hari Ulang Tahun saya. Yang saya perduli adalah bagaimana saya bisa memperlakukan orang lain dengan spesial, bagaimana saya bisa membahagiakan banyak orang, dan bagaimana orang lain bisa merasakan setiap hari adalah ulang tahunnya. Nggak perlu nunggu ulang tahun untuk memberikan kado kecil atau kejutan kecil untuk orang lain. Nggak perlu juga nunggu ulang tahun untuk memberikan kata ‘selamat’ untuk keberhasilan seseorang atau ‘terima kasih’ untuk orang yang menolong kita. Terkadang kita lupa pentingnya kata-kata itu. Begitu susahnya kita mengucapkan kata sesimpel itu. Padahal betapa indahnya hidup kita kalau dipenuhi dengan kata-kata itu. Coba deh mulai dengan mengucapkan kata ‘Terima Kasih’ kepada bapak-ibu kita. Saya yakin bahwa banyak diantara kita yang justru jarang mengucapkan kata itu kepada mereka. Ya, termasuk saya hehehe…

Semakin dewasa, saya terus belajar untuk selalu mengucapkan kata-kata simpel tersebut kepada orang banyak. Saya belajar untuk selalu memberikan kata selamat untuk orang-orang yang baru mendapatkan kebahagiaan. Secara nggak langsung itu akan membuat saya perlahan menghilangkan sifat iri. Saya pun juga berusaha selalu mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah membantu saya menyeberangkan jalan, memberikan barang saya yang tak sengaja terjatuh, memberikan uang kembalian dengan jujur saat saya berbelanja, mempersilahkan saya melihat-lihat barang dagangan mereka, dll. Percaya deh, secara nggak langsung kita sanggup memberikan aura positif di lingkungan kita.

Ulang Tahun itu ibarat sebuah peringatan dari Tuhan. Sudah berapa banyak yang kita berikan untuk orang lain? Apakah kita sudah mempergunakan waktu kita dengan baik? dan sudah seperti apakah diri kita saat ini? Dan jawabannya ada di diri kita masing-masing.
Ngomong-ngomong, dua tahun belakangan ini, ulang tahun saya mendapat kejutan kecil yang cukup manis. Tahun kemarin saya dibangunkan jam 12 tepat di kamar kosan saya. Ketika itu pula sebuah mini cup ice cream Conello dengan sebuah lilin diberikan oleh teman-teman kosan saya sebagai kejutan. God, I really miss you guys!
Dan tahun ini, untuk pertama kalinya seorang cowok berdiri di depan gerbang rumah saya jam 12 malam membawa sebuah cake dengan 25 lilin diatasnya, “Happy Birthday!”
Thanks dear, how sweet you are….