November, 2010

now browsing by month

 

Jangan Lihat Jam di Jakarta

Kejadian ini terjadi pada hari senin 25 Oktober 2010 lalu. Buat kamu yang tinggal di daerah Jakarta, pasti tahu apa yang terjadi pada hari itu. Ya, hari itu Jakarta macet parah. Emang sih, setiap harinya Jakarta selalu macet. Tapi kali ini macetnya superduperamatgiladansintingsekali. Saya akan menceritakan kronologis kejadian yang saya alami di hari senin sinting itu.

Pukul 15.00, saya biasa bersiap untuk berangkat ke kampus saya di Salemba. Saya memang lebih suka menggunakan kendaraan umum untuk menuju kampus. Karena rumah saya yang cukup jauh dari kampus ini, lebih cepat dijangkau dengan menggunakan bus Trans Jakarta atau yang biasa orang sebut dengan busway. Oke, untuk menuju shelter busway, dari rumah saya harus naik kendaraan umum dulu.Biasanya ini hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Tapi tebak berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk sampai ke shelter?3 Jam!!!Edan! Itupun saya harus nekat turun di jalan keluar tol dan berjalan kaki ke shelter yang jaraknya masih sekitar beberapa km, karena mobil nggak ada yang bisa bergerak sama sekali. Lumpuh total! Mana saat itu hujan deras. Untung saya bawa payung. Dengan nekad saya menerobos hujan, melewati mobil-mobil yang diam tak bergerak.

Sampai shelter pun, petugas disana bilang ke saya, “Mbak, ini bus terakhir karena lalu-lintasnya sama sekali nggak jalan. Mbak masih mau tetap jalan atau enggak?” saya pun tetap lanjut menaiki bus yang ternyata sudah 2 jam yang lalu tidak bisa bergerak di depan shelter. Habisan mau gimana lagi?Naik ojek nggak bakalan ada yang mau sampai salemba karena hujan deres juga. Naik taksi sama juga boong.Tetep macet. Jalanan busway sudah bukan lagi eksklusif milik busway seorang. Tapi sudah bercampur jadi satu. Tumplek blek!

Saat itu saya melihat seseorang berseragam pilot membuka kaca sebuah mobil dan bertanya pada pedagang asongan. Ia kelihatan panik. Mungkin ia ada penerbangan saat itu.Seandainya benar, nggak kebayang apa yang sedang terjadi di bandara sana. Usut punya usut, hampir semua jalan di Jakarta pada hari itu lumpuh total.

Ketika di dalam busway pun, ditengah jalan alarm kendaraan itu berbunyi, menandakan bahwa bahan bakarnya sudah habis karena terlalu lama di jalan. Banyak penumpang yang langsung turun lewat pintu disamping supir karena putus asa. Saya lebih memilih melanjutkan perjalanan menggunakan busway lain. Hp saya terus-terusan berbunyi. Mama,Papa,Iil,Frey, dan yang lainnya khawatir dengan keadaan saya. Sampai saluran radio pun kebanyakan isinya orang-orang yang mencaci dan mengeluh macet. Yang saya pikirkan saat itu, saya HARUS sampai kampus jam berapapun itu karena kebetulan saya membawa tugas yang hari itu harus dikumpulkan. Sepanjang perjalanan saya terus-terusan berdoa agar dosen saya berbaik hati memberikan tenggang waktu. Tapi setiap kali saya melihat jam di bus, rasanya pengen nangis kejer. Tugas dikumpulkan jam 18.00 dan sekarang jam 20.30. Oh God!

Akhirnya saya bisa sampai kampus dengan selamat pukul 21.40, dan untungnya dosen saya berbaik hati menerima tugas saya. Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu selama 30 menit, hari itu cukup 6 jam aja lhooooo…edan!

Memang masalah kemacetan di Jakarta ini udah keburu ruwet banget. Banyak banget orang,termasuk saya yang mengeluh macet di jalan. Padahal tanpa kita sadari, kita juga penyebab dari kemacetan itu sendiri. Jakarta itu udah terlalu padat kendaraan. Saya pernah membaca bahwa ada kurang lebih 1000 motor baru dan 300 mobil baru bertambah setiap bulan di Jakarta. Padahal jalanan di Jakarta nggak bertambah. Gimana nggak macet ya?

Busway udah nggak bisa lagi dijadikan solusi. Sudah seharusnya Jakarta ini memiliki transportasi yang bisa memuat banyak orang. Yang paling cocok ya cuma kereta api. Tapi kereta api dalam arti normal lho. Bukan kereta api yang seringkali ditumpangi orang-orang diatasnya 😛 Dulu rencana bikin monorail sebenernya udah oke. Tapi proyek itu malahan nggak diselesaiin. Dan tiang-tiangnya yang sudah keburu dibangun bikin rusak pemandangan jalan. Padahal kalau ada monorail atau subway, kemacetan kayak demo, banjir,dll bisa dilewati (ini menurut saya lho :P).

1569020

Saya jadi teringat ketika saya mengikuti program kelas di AS. Saya heran melihat orang-orang sana yang jauh lebih tertarik menggunakan transportasi umum dibandingkan mobil pribadi. Bahkan lebih memilih berjalan kaki sebagai alternative kedua. Tapi ketika saya merasakan sendiri menggunakan transportasi umum disana…oooh…pantes aja… selain harganya murah, kemanan disana sangat terjamin. Orang nggak bakalan takut berpergian sendiri dengan kendaraan umum. Belum lagi fasilitasnya yang bersih dan nyaman karena masing-masing orang yang menggunakannya sama-sama menjaga. Dan yang lebih dahsyat lagi, metro (subway) disana sangat tepat waktu. Jadinya kita bisa merencanakan perjalanan pribadi kita setiap hari. Seandainya Jakarta bisa seperti itu, nggak ada lagi anak sekolah, karyawan kantor, dll yang beralasan macet ketika terlambat hadir. Dan mudah-mudahan banyak orang yang beralih menggunakan transportasi umum.

Ibarat benang kusut, sekusut apapun, selalu ada ujung pada setiap benang. Selalu ada solusi untuk menyelesaikan suatu masalah. Sekarang tinggal bagaimana kita membuka satu persatu benang yang kusut itu untuk mencari pangkalnya. Masalah macet ini bukan cuma masalah pemerintah. Tapi juga masalah kita bersama-sama. Mungkin bisa diawali dengan pembenahan pola pikir didiri kita sendiri dulu, pola pikir kita yang suka gengsi kalo naik kendaraan umum:P
Tapi untuk saat ini, kalau mau pergi,inget ya….. jangan lihat jam di Jakarta. Hahaha….

Monkey Loves Banana

36863_423334574840_793749840_4249719_2899333_n

Monyet memang menyukai pisang, saya pun menyukai pisang. Tapi sayangnya saya bukan monyet. Saya hanya seorang manusia yang menyukai makanan seperti para monyet. Pisang.

Kadang saya senang mengisi otak saya dengan berbagai pertanyaan mengenai suatu objek sambil berusaha sebisa mungkin saya temukan jawabannya. Dan kebetulan lagi, objek saya kali ini adalah pisang. Yup, pisang dalam arti sebenarnya. Buah pisang.
Saya bengong menatap sesisir pisang diatas meja. Mama saya yang berada disebelah saya jelas heran melihat muka saya yang menatap pisang seperti menatap cowok ganteng. Mama pun langsung berkata,
“Udah kalau mau, makan aja. Jangan diliatin gitu.”

Saya pun menggelengkan kepala. Karena sebenarnya memang saya lagi nggak mood makan itu pisang. Saat itu saya hanya sedang berpikir banyak mengenai pisang dihadapan saya itu. Melihat stiker yang tertempel di pembungkus plastik pisang itu, jelas bahwa pisang tersebut bukan pisang asli Indonesia. Kalau nggak salah, merek itu berasal dari Amerika Latin. Kalau dibandingin sama pisang Ambon, rasa pisang bule itu mah kalah jauuuuh banget. Pisang lokal tetap yang paling oke.

36863_423334589840_793749840_4249722_3200221_n

Tapi di toko buah-buahan tadi, nggak ada satupun pisang lokal yang dijual disana. Heran. Perasaan kalau saya melewati kebun kosong, pastilah pohon yang paling banyak tumbuh disana adalah pohon pisang. Belum lagi pisang-pisang Indonesia terkenal manis dan beraneka ragam. Tapi kenapa justru pisang kita hilang dari pergaulan kalangan elite pisang? Semua pisang yang dijual di toko itu adalah import. Yang percaya atau tidak, buah tersebut telah mengalami sistem pengawetan yang ribet karena harus dibawa dari Amerika Latin ke Indonesia (ini sekedar asumsi saya). What the hell…?

Saya jadi teringat kata-kata salah satu dosen saya. Beliau pernah menyayangkan kenapa di Indonesia ini lebih banyak menghasilkan ST(sarjana tekhnik) dibandingkan dengan seorang yang memiliki keahlian tekhnik. Banyak ST yang pada akhirnya bekerja di sektor non-tekhnik karena masih kurangnya lapangan pekerjaan di bidang tersebut atau ketatnya persaingan. Padahal kalau pemerintah atau lembaga-lembaga pendidikan bisa menjamin pekerjaan buat mereka di sektor yang tepat, pastilah beberapa tahun kedepan Indonesia akan menjadi negara yang disegani oleh bangsa-bangsa lain.

Misalnya masalah pisang ini. Well, saya yakin kok kalau petani pisang di Indonesia ini sebenarnya cuma kebentur masalah dana untuk berani bersaing. Mereka nggak memiliki tekhnologi yang oke untuk pisang-pisang mereka. So, kenapa nggak memanfaatkan insinyur-insinyur lokal untuk bekerjasama membangun infrastruktur yang bagus untuk perkebunan pisang kita? Dan kenapa nggak pemerintah memberikan perlindungan dan pendidikan untuk mereka para petani supaya memiliki pengetahuan ekonomi yang oke juga? Supaya suatu saat nanti kita akan melihat pisang ambon joget-joget di Amerika Latin. Amiiiin…

Ngomong-ngomong, kalo dilihat-lihat, pisang itu kayak manusia yah. Macem-macem. Ada yang luarnya kuning memikat, dalemnya amit-amit paitnya. Ada juga yang luarnya kuning bopeng-bopeng item, tapi dalemnya maniiiis banget. Ada lagi yang luarnya ijo butuk, dalemnya paiiiit juga. Tapi masih ada lho, pisang yang luarnya kuning bercahaya dan dalemnya manis bukan main. Biasanya yang kayak gini harganya paling mahal nih… Nyam…nyam…

Manusia kan juga gitu. Ada yang dari luarnya cakep, tapi kelakuannya jelek. Ada juga yang diluarnya jelek banget, tapi hatinya malaikat. Eh… ada lagi yang dari luarnya jelek, kelakuannya juga buruk. Nah, yang terakhir ini nih yang paling asik. Dari luarnya keren mampus, dalam hatinya malaikat banget. Dan lagi-lagi orang yang seperti ini nih, yang paling banyak punya fans dan temen dimana-mana.

So, kalian kebagian jadi pisang yang seperti apa???

Nb: Kenapa pisang bentuknya selalu bengkok ya???ada yang tau?*