June, 2010

now browsing by month

 

Saya dan Kamera

Saya menyukai foto. Ya, saya menganggap kalau moment itu nggak bisa diulang. Jadi kalau kita abadikan moment tersebut dalam sebuah gambar, pasti akan mempermudah kita untuk mengingatnya. Saya sadar kalau setiap foto memiliki cerita. Bayangkan saja kalau mata kita adalah sebuah kamera, sudah ada berapa cerita disana. Makanya saya tak pernah lupa membawa camera pocket di tas saya untuk mengabadikan moment-moment yang saya lihat sehari-hari.

Tapi entah sudah berapa lama saya takut kalau difoto seorang diri. Kebanyakan foto-foto baru saya yang sedang sendiri, itu adalah hasil jepretan iseng temen-temen saya ketika saya tidak menyadarinya atau memang karena saya ingin memfoto suatu objek yang berada di dekat saya. Saya bukan hanya takut, tapi saya tidak pede difoto.

Kejadian ini terjadi beberapa waktu yang lalu, saat seseorang yang saya sayangi membanding-bandingkan foto saya dengan foto seorang cewek seumuran saya. Mulai saat itu saya takut difoto sendiri. Kenapa? karena orang itu mulai memperhatikan fisik saya lebih mendetail. Saya kurang inilah, itulah. Mendingan beginilah, begitulah. Saya jadi merasa seperti itik buruk rupa. Masih untung saya agak cuek. Tapi gimana kalau saya sensitif?mungkin saat ini saya sudah operasi plastik seperti michael jackson. Yiiii…hiiii!!!

Saya memang tidak terlalu nyaman diperhatikan sangat detail oleh seseorang karena saya nggak pernah mau berpura-pura jadi orang lain agar terlihat tanpa ‘cacat’. Saya ingin jadi diri saya sendiri. Maaf, saya amat sangat bersyukur dengan fisik saya meskipun saya nggak sekeren Angelina Jolie…hahaha…

Anyway, seorang teman tanpa saya sadari iseng memotret saya ketika saya sedang bersamanya. Padahal sebelumnya saya menolak mentah-mentah ketika saya tahu ia mau memotret saya. Sayang kameranya kalo musti motret cewek jorok dan asal-asalan seperti saya. Wajah saya juga nggak indah. Belum lagi saya nggak fotogenic. Tapi ketika foto-foto itu ia berikan ke saya, ia menuliskan kalimat-kalimat pendek dibawahnya. Membuat saya mulai berpikir… ternyata bukan orang yang difoto yang penting. Tapi MOMENT ketika objek itu difotolah yang menjadikan sebuah foto itu bernilai atau tidak…

Thanks banget buat Mas Iil Prasetio yang sudah berbaik hati memotret makhluk aneh bernama Dyan Nuranindya ini. Untung kameramu nggak rusak habis motret aku mas…mas…ck..ck..ck…

Rest In Peace My Dear X-Banner

foto0018

REST IN PEACE X-BANNER

November 2009 – Juni 2010

Saya terjaga ketika suara Papa membangunkan saya dengan sebuah kalimat, “Dek, Banner mati..”  tanpa mengulet ataupun duduk terlebih dahulu, saya langsung bergegas menuju rumah kelinci saya, X-Banner. Dan saya terpaku melihat kelinci kesayangan saya ketika itu. Ia terbujur kaku dengan mata terbuka. Ya, Banner telah mati….

Mungkin memang sudah waktunya dia harus pergi. Padahal sebulan sebelumnya ia sempat sakit parah, sampai-sampai setiap malam saya dan keluarga harus mengelus-ngelus tubuhnya karena ia kejang-kejang. Kami juga harus menyuntik tubuhnya ke dokter hewan untuk menangkal virus jahat yang menyiksanya. Dokter bilang ia terkena scabies dan sudah sangat fatal. Setiap kali ia kejang, saya selalu mengelus tubuhnya sambil berkata, “Banner, tahan ya sayang….”

Ia berhasil bertahan untuk hidup melawan penyakitnya. Bahkan tubuhnya sudah kembali gemuk.  Tapi entah apa penyebabnya, pagi itu Tuhan mengambilnya. My Lovely X-Banner. Bahkan saya pun tidak melihat gejalanya. Tiba-tiba saja ia telah terbujur kaku di rumahnya meninggalkan saya dan si’item’, kelinci perempuan yang kakak saya beli untuk dijadikan pasangannya. Rest In Peace My dear X-Banner…

Berikut adalah si ‘item’, pacar X-banner yang sedang berduka dan saya hibur dengan memberikannya beberapa boneka untuk bermain….

Sorry, Cinta gue nggak bisa dibeli…

“Elo terlalu pilih-pilih sih, Ciiil…”

“Ya iyalah gue pilih-pilih. Manusia kan memang harus bisa memilih. Surga-Neraka aja itu pilihan kan? tergantung gimana caranya elo mendapatkan pilihan yang elo mau itu. Ya elo musti berkorban. Kalau elo mau ngedapetin cewek, elo kan harus berjuang. Jangan pasrah sama keadaan. Yang ada malahan keduluan yang lain hahaha…”

Haha… lagi-lagi masalah pengorbanan. Obrolan ‘nggak penting’ itu terjadi saat saya dan teman-teman sedang mengompori salah satu teman saya yang ingin ‘menembak’ seorang cewek. Lantaran abis dikomporin oleh kami, dia malahan gantian menghujani saya dengan banyak pertanyaan. Begini cuplikannya:

“Pilih-pilih pasangan emang wajar, Cil. Tapi pilihan lo terlalu susah. Terlalu ajaib. Lo suka minoritas.”

“Ya kan elo tau sendiri kalau gue suka yang lain daripada yang lain. Yang unik. Gue nggak suka cowok-cowok tipikal yang ada di novel-novel teenlit.” (Wooops, lupa kalo saya penulis teenlit haha…)

Banyak orang yang selalu menuntut pasangannya cakep, keren, tajir, baik, pengertian, bisa inilah bisa itulah. Man, kalo kayak gitu mah nggak bakalan ada habisnya. Yang ada malahan kita jadi gampang ilfil kalo dia bertindak nggak sesuai yang kita harapkan. Lagian mana ada sih, orang yang sempurna?Kita aja nggak sempurna.

Justru itu, sebenernya kesempurnaan dalam berpasangan itu bisa diraih kok. Saya berpikir, kalau kita berawal dari sebuah ketidaksempurnaan bukannya sebuah hubungan jadi semakin indah? Jadi kita dan pasangan kita yang tadinya sama-sama nggak sempurna, ketika bersama bisa bareng-bareng introspeksi, bareng-bareng belajar untuk menjadi sempurna.

Kalau kita bercermin dan melihat kesempurnaan yang ada di dalam diri kita sebanyak 50%, ya jangan nuntut pasangan kita punya 100%. Bukannya akan lebih indah kalau kita punya 50% dan dia punya 50%?Jadinya kita punya 100% (halah! kok jadi itung-itungan sih?kayak mau buka toko. Haha…)

Anyway, lepas dari itu semua, paling enak itu jadi diri sendiri. Baik kalian itu cewek atau cowok, kalau kita jadi diri kita sendiri, kedepannya dalam menjalin hubungan pasti bakalan lebih seru. Lebih banyak cerita.

“Tapi gue lagi bokek.” itu ucapan teman saya ketika saya dan yang lain terus mengompori dia ahahah.

“Ini bukan sepenuhnya masalah harta. Tapi ini soal kreativitas. Soal gimana caranya membuat ‘dia’ suka sama elo. Nggak perlu ke restaurant mahal, nggak perlu bawa mobil ferari, dan nggak perlu ngasih perhiasan mahal untuk bisa bikin cewek yang elo taksir nerima elo kok. Yah, kecuali kalo ceweknya matre gila! Huahaha…. Kalo ditolak, aaah… itu mah biasa.”

“Berarti gue musti bikin sesuatu yang OK buat nembak dia. Lo ada ide?”

“Yee…. emangnya gue yang mau nembak? Pikir sendiri doong. Yang penting, elo harus melaluinya dengan gagah berani. Itu baru yang namanya lelaki…”

Saya berkata dengan wajah berusaha serius. Sementara teman-teman saya yang lain ngakak nggak berhenti-berhenti lantaran wajah teman saya itu penuh dengan konsentrasi tingkat tinggi mendengar petuah sesat saya hahaha.. SUKSES YA, BRO!.

Jangan Panggil Saya Penulis

habiburrahman_el_shirazy_022boim-n-his-books022522philman-hariwijaya

golagong_belajar_menulis_01fira-basuki2anggrek7dalberthiene_endah_003

“Eh penulis…”

“Ssssttt… jangan panggil gw kayak gitu. Gue maluuu…”

“Kenapa???”

Berikut adalah sapaan klise teman-teman saya yang selalu saya balas dengan jawaban yang klise juga. Malu.Sudah nggak keitung berapa banyak yang bertanya-tanya kepada saya kenapa saya selalu malu jika dipanggil dengan sebutan ‘penulis’. Untuk menjawab teka-teki itu, dalam postingan kali ini saya akan menjelaskan alasannya kepada kalian.

Kenapa saya jadi seorang penulis?

Hmmm… jangankan kalian. Saya pun heran kenapa saya bisa jadi seorang penulis.

Dari kecil saya suka menggambar dan menyanyi. Bahkan bertahun-tahun saya dimasukan les vokal oleh orang tua saya. Hasilnya? Saya justru jadi penulis. Bukannya menjadi penyanyi seperti Agnes Monica atau Rossa.

Saya juga tidak menjadi penggambar meskipun cukup lama juga saya ikutan kursus menggambar selepas sekolah sewaktu SD.  Lagi-lagi saya malahan jadi penulis.

Tak pernah terbesit sekalipun dalam pikiran saya untuk dapat menerbitkan sebuah novel yang bisa dibaca oleh orang banyak. Apalagi sampai diterbitkan di Singapur dan Malaysia. Itu benar-benar aneh!

Cita-cita saya dari kecil memang sering berubah-ubah dan cukup aneh-aneh menurut saya. Saya pernah bercita-cita ingin menjadi dokter spesialis kejiwaan. Saya juga ingin sekali menjadi pembalap motor. Dan bahkan saya pernah berpikir untuk berprofesi menjadi supir traktor karena papa saya dengan isengnya membelikan saya mainan traktor berwarna kuning waktu saya kecil. Tapi pernahkah saya berpikir untuk menjadi seorang penulis? Jawabannya, tidak.

Dari kecil, saya lebih sering menjadi penikmat buku. Saya selalu menikmati setiap kali saya berimajinasi ketika membaca sebuah buku. Mas Hilman, Mbak Fira  Basuki, Kang Abik, Mas Boim, Mbak Albertiene Endah, Pakde Teguh Esha, Mas Gola Gong, Bunda Helvy dll. Mereka adalah orang-orang yang pada waktu itu sering saya nikmati buku-bukunya. Saya adalah pengagum karya-karya mereka. Saya pun teringat ketika sewaktu SMP saya dengan takutnya meminta tanda tangan Mbak Fira Basuki ketika beliau sedang mengadakan jumpa pengarang disana. Saya juga teringat ketika saya menangis karena salah satu koleksi buku Lupus saya hilang entah kemana.

Semua berawal ketika saya membuka buku harian saya. Dari situ saya berpikir, ternyata saya, kamu, dia, dan mereka punya cerita masing-masing dalam kehidupan ini dan masing-masing punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah. Lalu kenapa kita nggak bertukar cerita?Kenapa banyak diantara kita yang terlalu egois nggak mau menceritakan bagaimana menyelesaikan, mencari, mendapat dan mempertahankan hal-hal yang kita raih kepada orang lain agar orang lain juga bisa maju, bisa berkembang?

Saya memang sengaja memajang foto penulis-penulis Indonesia yang memang saya kagumi (disamping masih banyak lagi penulis hebat lain yang saya baca dan kagumi karya-karya mereka yang tidak bisa saya pajang semua foto-fotonya disini.) karena saya menganggap mereka termasuk pahlawan yang membantu saya untuk berpikir lebih maju. Berpikir bagaimana saya bisa menuangkan ide, pikiran dan pendapat agar saya bisa share ke orang lain seperti yang telah mereka lakukan terhadap saya. Pembaca karya mereka. Dengan satu harapan agar kita bisa berpikir lebih kreatif, cerdas dan maju. Mereka mampu membuat saya yang hanya seorang anak sekolah biasa yang penakut, berani untuk berekspresi dan berani maju untuk berkarya. Dan entah sudah berapa juta orang diluar sana yang juga mengalami perubahan besar karena mereka. Para penulis.

Jadi kenapa saya musti malu jika ada teman saya yang memanggil saya dengan sebutan PENULIS?

Saya malu karena saya merasa belum ada apa-apanya dibandingkan dengan penulis-penulis lain diluar sana (beberapa diantaranya yang saya sebutkan tadi) yang luar biasa hebat dan telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia kepenulisan. Ya, saya merasa belum pantas untuk disebut sebagai seorang penulis jika dibandingkan dengan mereka. Tapi yang jelas, saya merasa terhormat kalau ada diantara teman-teman saya yang memanggil dengan sebutan PENULIS.

Sebuah kejadian yang nggak akan pernah saya lupakan akan saya ceritakan di akhir postingan saya kali ini. Kejadian ini terjadi hanya beberapa bulan setelah novel pertama saya terbit.

Suatu sore saya tengah duduk di pinggir trotoar dengan salah satu teman saya. Kami sedang membicarakan tentang sastra di Indonesia. Di tengah-tengah obrolan kami, saya berkata:

“Tulisan gue ringan banget untuk jadi bacaan. Gue khawatir banget akan terjadi pengkotak-kotakan sastra. jadinya malahan saling menjatuhkan. Padahal kan harapan gue, orang-orang bisa menjadikan toko buku jadi sarana rekreasi yang sangat menarik karena masyarakat punya banyak pilihan bacaan saat ke toko buku.”

Tiba-tiba kami melihat seorang lelaki berpakaian santai, bersandal jepit dan dengan tas selempang di bahu mendekati kami. Teman saya mengenalkan saya dengan lelaki tersebut. Saya memanggilnya dengan sebutan Pak de. Teman saya itu menceritakan kepada lelaki itu, “Dicil ini baru nerbitin novel remaja.”

Kalian tau apa efek dari kalimat teman saya itu? Lelaki tersebut mendadak bersemangat. Ia merangkul saya. Dan sebuah kata-katanya yang keluar dari bibirnya membangkitkan semangat saya, “Bagus kamu menulis. Terus menulis. Jangan sampai putus. Jangan pernah takut berkarya. Anak muda sekarang harus berani berkarya. Berani maju. Saya senang ada anak muda yang berani.”

Terima kasih Tuhan, engkau mempertemukan saya dengan lelaki sederhana yang rendah hati itu yang mau membagi pengalamannya kepada penulis amatiran seperti saya. Ya, saya tidak akan melupakan pertemuan singkat saya dengan Pakde Teguh Esha, Penulis Ali Topan Anak Jalanan yang saya kagumi. Dan Tuhan juga sangat baik memberikan kesempatan kepada saya untuk bertemu, mengobrol, bahkan satu panggung dengan penulis-penulis hebat yang beberapa fotonya saya pajang diatas. Mas Hilman, Mbak Fira  Basuki, Kang Abik, Mas Boim, Mbak Albertiene Endah, Mas Gola Gong, Bunda Helvy TR dll

Role Model untuk Diri Kita

photo-9-copy

Ketika standart moral para public figure dipertanyakan, dan ketika tidak ada lagi orang di dunia ini yang pantas kita jadikan idola, siapakah yang akan jadi panutan kita?

Well, sebenernya saya malas menuliskan masalah ini di blog saya karena beberapa alasan (kalian pasti tau apa yang sebenarnya sedang saya bahas:P):

1.Banyak masalah yang jauh lebih penting di dunia ini untuk dibicarakan  (prestasi, kemiskinan, kelaparan, dll). Ngapain sih memperlebar masalah video2 itu?

2. Saya kasihan dengan orang-orang yang mau nggak mau musti ‘menangis’ karena peristiwa itu (ex. keluarga ybs).

3. Kalau memang itu mereka trus kenapa? Merusak moral? Memang, tapi bukankah dari dulu-dulu emang udah ada video-video kayak gitu? Yang musti bener itu moral masing-masing individunya dulu. Kalo moralnya emang udah bagus, ngapain juga nonton2 begituan.

4.Saya terlalu muak dengan pemberitaan di media. Hey! gimana anak-anak kecil gak tau or gak penasaran kalau berita itu selalu muncul setiap hari tanpa henti. Itu over exposed banget!

5. Malu banget saya pas tau kalau topik video itu menjadi nomor 1 di twitter. Gila ya, penting banget ya?

Tapi perasaan ‘terganggu’ saya membuat saya kemudian berpikir, saya harus menuliskan sesuatu di blog saya tentang masalah ini. Bukan untuk memperluas berita ini, tapi justru saya berusaha untuk memberikan pandangan berbeda tentang masalah ini.

Dear guys, memang ada istilah BAD NEWS IS A GOOD NEWS. Dimana kita lebih sering mendengar atau membaca berita buruk tentang seorang public figure sementara berita baik tentang mereka justru ada dibagian dalam tabloid, bukannya terpampang besar-besar di covernya. Meskipun ada beberapa public figure yang melakukan hal buruk, tapi jangan lupa kalau banyak juga yang telah melakukan prestasi.

Sebenarnya wajar aja kalo seorang public figure melakukan kesalahan. Ya, mereka kan manusia juga. Saran saya, kalau kalian merasa kecewa terhadap seorang public figure, coba alihkan perhatian kalian pada… DIRI KALIAN SENDIRI. Daripada mikirin kesalahan mereka, lebih baik jadikan prestasi yang ada di diri kalian sebagai inspirasi. Coba buat diri kalian sebagai panutan buat orang lain, lalu jalani hidup seakan-akan orang lain melihat kalian  sebagai seseorang yang patut di contoh. Cuma diri kita yang bisa membangun kharakter baik untuk diri kita sendiri. Jadilah panutan untuk diri kamu sendiri. Yah, sukur-sukur kebaikan kalian beneran menjadi panutan bagi orang lain. Kalian juga kan, yang dapet pahala… AMIN… makanya, lebih baik kita berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Ngomong-ngomong, dari pada sibuk mikirin video ‘so what’ itu, lebih baik kita melihat prestasi-prestasi luar biasa yang telah dibuat sama anak negeri. Nih, beberapa diantaranya yang sanggup membuat kamu geleng-geleng kepala dan bangga ketika tau kalau mereka adalah orang Indonesia. Semoga bisa dijadikan motivasi buat kalian ya….

1. Abdul Jamil Ridho & Niti Soedigdo – Penemu Varietas Unggul Singkong Raksasa
2. Adi Rahman Adiwoso – Penemu Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit
3. Alexander Kawilarang – Penemu Kapal Ikan Bersirip
4. Andrias Wiji Setio Pamuji – Penemu Reaktor Biogas
5. Arief Mulyana Djumra – Penemu Pemacu Produktifitas dan Kualitas Udang dan Ikan
6. Aryadi Suwono & Tim Peneliti ITB – Penemu Bahan Pendingin Baru yang Lebih Hemat Energi
7. Ayub S. Parnata – Penemu Bakteri Kompos Organik
8. Bacharuddin Jusuf Habibie – Penemu Teori, Faktor dan Metode Habibie (Teknologi Pesawat Terbang)
9. Budi Noviantoro – Penemu Klip Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi
10. Dani Hilman Natawijaya – Penemu Indikator Alam (Terumbu Karang) terhadap Siklus Gempa
11. Djuanda Suraatmadja – Penemu Beton Polimer yang Ramah Lingkungan
12. Eddyman, Intan Elfarini & Kanaka Sundhoro – Penemu Obat Antinyamuk Alami dan Murah
13. Evvy Kartini – Penemu Penghantar Listrik Berbahan Gelas
14. Fuad Affandi – Penemu Pupuk Alami dari Air Liur
15. Herman Johannes – Penemu Tungku Berbahan Bakar Briket Arang Kayu dan Dedaunan
16. I Gede Ngurah Wididana – Penemu Formula Minyak Oles Bokhasi
17. I Made Budi – Penemu Formula Sari Buah Merah untuk Pengobatan
18. Lalu Selamat Martadinata – Penemu Alat Pemanggil Ikan
19. M. Djoko Srihono – Penemu Penjernih Air Limbah
20. Maruni Wiwin Diarti – Penemu Senyawa Antimikroba dari Rumput Laut
21. Minto – Penemu Kompor dan Pengering Hasil Tani dengan Tenaga Matahari
22. Mumu Sutisna – Penemu Hormon Penyubur Anakan Padi
23. Mulyoto Pangestu – Penemu Teknik Ekonomis Pembekuan Sperma
24. Neny Nurainy – Penemu Varian Virus Hepatitis B Indonesia
25. Puji Slamet Arif – Penemu Motor Listrik Hemat Energi
26. Rahmiana Zein – Penemu Teknik Pemisahan Cairan dalam Kecepatan Tinggi
27. Randall Hartolaksono – Penemu Formula Kimia Pemadam Api Ramah Lingkungan
28. Rizal & Juffri Sahroni – Penemu Penghemat Bahan Bakar Diesel
29. Robert Manurung – Penemu Minyak Jarak Murni
30. Saverinus Nurak – Penemu Mesin Pompa Tangan Berkekuatan Tinggi
31. Sutjipto & Ryantori – Penemu Konstruksi Fondasi Sarang Laba-laba
32. Sutrisno – Penemu Alat Perangkap Lalat Buah
33. Sedijatmo – Penemu Konstruksi Fondasi Cakar Ayam
34. Septinus George Saa – Penemu Rumus Penghitung antara Dua Titik Rangkaian Resistor
35. Sofin Hadi – Penemu Metode Cincin untuk Sunat Tanpa Luka
36. Sri Wuryani, Mustadjab, Euis M. Nirmala, Siwi Hardiastuti – Penemu Pengawet Aroma dalam Hampa
37. Tjokorda Raka Sukawati – Penemu Landasan Putar Bebas Hambatan Sosrobahu
38. Warsimin Adiwarsito – Penemu Marmer Buatan
39. Widowati Siswomihardjo – Penemu Bahan Baru untuk Gigi Palsu yang Lebih Aman dan Murah
40. Windu Hernowo – Penemu Penghemat Bahan Bakar Mesin
41. Yanto Lunardi Iskandar – Anggota Tim Penemu HIV & Metode Peningkatan Hematopoiesis
42. Yudi Utomo Imardjoko – Penemu Kontainer Limbah Nuklir
43. Zahlul Badaruddin – Penemu Zahlul Integrated Unit (Desain Sistem Efisien untuk Produksi Obat/Kimia)