May, 2010

now browsing by month

 

Dyan is not a Freak!

img_1969

Nama saya dyan. Tapi terkadang orang bebas memanggil saya dengan sebutan apapun. Dyan, dee, dichiel, chiel,  freaky, sinting, aneh, cungkring, kutu loncat atau apapun sesuka hatinya. Tubuh saya kecil, tidak telalu tinggi, dan sering kesusahan ketika ingin membeli pakaian di toko. Dan entah sudah berapa kali saya dikira membolos sekolah karena tubuh saya yang mirip anak SMP saat bertemu dengan orang di jalan raya.

Kata Mama saya bandel, ceroboh dan nekat. Sering kali saya lupa kalau tubuh saya mini dan suka pusing-pusing kalau emosi saya mulai naik. Tapi sekali lagi, saya suka nekat menantang bahaya.

Entah sudah berapa kali saya dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang menilai saya dari penampilan. Udah nggak keitung juga berapa orang yang meremehkan saya karena sering duduk di pinggir jalan sambil gitaran dengan teman-teman saya yang rata-rata berpenampilan aneh-aneh.

“Anak-anak nggak punya masa depan. Tukang bikin onar.” begitu sebagian besar para orang tua yang melihat kelakuan kami. Padahal saat itu kami tidak berbuat apa-apa.

dscn0170dscn1826

Pernah satu kali saya berada di bus yang terjebak kemacetan. Saking betenya, saya mengajak ngobrol orang disebelah saya. Entah kenapa sepertinya orang itu tidak nyaman saya ajak mengobrol. Dengan nada agak menyebalkan (maaf kalau memang nada suaranya seperti itu) dan pandangan yang tidak menengok kearah saya, dia bertanya:

“Nggak sekolah?”

“Udah selesai” jawab saya sambil cengar-cengir.

“Selesai? Kenapa nggak lanjutin?”

Saya hanya tersenyum kecil, “Pengennya sih lanjutin lagi. Tapi….”

“Emang sih sekarang sekolah itu muahal banget. Tapi pendidikan itu penting lho. Jangan sampai putus sekolah. Jaman sekarang nyari kerja kalo cuma lulusan SMP/SMU aja mah susah. Nanti mentok-mentoknya paling nganggur trus nongkrong-nongkrong di pinggir jalan….” dan bla…bla…bla… ibu-ibu itu terus berbicara sebelum saya sempat melanjutkan kalimat saya.

Saya hanya bisa senyum sambil manggut-manggut.

“Kamu dari mana mau kemana?” tanya ibu-ibu tersebut.

“Dari kerja. Trus mau ngambil formulir di XXX.” jawaban saya.

“Kerja? kerja apaan?”

“Periklanan.”

“Emang kamu lulusan mana?”

“Perbanas. S1. Tapi Insya Allah sih mau lanjutin lagi.Ini baru mau ngambil formulir buat lanjutin S2.”

“Ya ampuuuun, saya kira kamu baru lulus SMP..”

Dooooeeenggg! Setelah itu barulah sang Ibu mengajak ngobrol saya dengan lebih bersahabat. Mana pake nanyain ada lowongan apa nggak di kantor saya lagi!Katanya buat anaknya.Bete!

Itu hanya salah satu kisah dari sekian banyak kisah yang pernah saya alami. Saya heran. Kenapa sih, orang sering kali menilai seseorang dari penampilannya? Terus terang, saya memang sangat cuek dan badung. Bahkan otak saya juga pas-pasan. Tapi buat saya pendidikan itu sangat penting. Saya nggak mau jadi jenius. Tapi setidaknya saya nggak paling bodoh. Saya sekolah bukan karena gengsi atau apapun. Tapi saya hanya tidak ingin otak saya kosong. Setidaknya ada yang saya pelajari  dan bisa saya ajarkan kepada anak-cucu saya. Gini-gini saya rela menggunakan hampir seluruh tabungan saya untuk pendidikan.

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri sebuah acara untuk anak-anak yang memiliki keterbelakangan. Inti dari acara itu adalah memberikan motivasi kepada anak-anak tersebut agar memiliki impian dan cita-cita. Saya sangat sedih ketika mengetahui kalau banyak dari mereka yang ternyata tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup karena kekurangan yang mereka miliki. Salah seorang pengajar yang cukup saya kagumi karena selain cerdas, bergelar sarjana dan dari golongan berada, tapi juga memiliki hati bak malaikat mendekati saya dan membisikan sebuah kalimat yang membuat saya bersemangat untuk meraih pendidikan yang lebih lagi.

“Lo liat kan? Mereka ini yang membuat gue pengen sekolah tinggi supaya bisa gw tularin ke mereka. Kalau bukan kita, siapa lagi?”

Ya, lo bener. Kalau bukan kita, siapa lagi?