September, 2009

now browsing by month

 

Jojo suka Iseng….

Ini adalah foto yang nggak sengaja direkam oleh Jojo akibat kebodohan saya sendiri hahaha… (*lupa kalo lagi nyoba-nyoba kamera)

photo-4-copy_MMmm…. NyAM….NyaM….NyaM…_

foto-box2_Semakin Bodoh hahahaha…_

Memangnya Kenapa Kalau Saya Penulis Teenlit?

Kata orang, jadi penulis itu gampang. Tua-Muda, Laki-Perempuan, Kaya-Miskin, Cantik- Jelek, semua bisa bisa jadi penulis. Saya jadi teringat saat pertama kali saya menulis. Banyak sekali orang-orang yang memandang sebelah mata, mencibir, bahkan menjelek-jelekkan tulisan saya. Menganggap saya anak kecil yang sok tau dan hanya bisa membuat tulisan-tulisan ringan yang tidak berbobot. Wajar memang melihat background pendidikan saya yang bukan berasal dari Sastra, nilai Bahasa Indonesia saya yang memang biasa-biasa saja, dan banyak hal lain dalam diri saya yang cukup sulit membuat orang mempercayai kalau saya seorang penulis. Semua bentuk pandangan sinis membuat saya sadar bahwa semua orang, termasuk saya yang bukan apa-apa ini bisa jadi penulis. Tapi menjadi penulis seperti apa dan untuk apa? Itu pertanyaannya…

“Bahasa tulisan kamu terlalu ringan. Seharusnya kamu bisa membuat tulisan yang lebih mendalam dari itu.”

Lalu kenapa kalau saya menulis novel ringan?
Lho, saya kan bukan profesor yang biasa menuliskan hal-hal yang berat. Kenapa harus dipermasalahkan?
Saya hanyalah seseorang yang menginginkan minat baca generasi muda Indonesia meningkat. Dan masyarakat bisa memiliki pilihan bacaan yang beragam.
Saya tidak terlalu perduli orang mau bilang apa tentang tulisan saya. Tapi yang jelas menurut saya, cara agar membuat seseorang yang sama sekali tidak suka membaca menjadi suka membaca ialah dengan mulai memberikan bacaan. Dimulai dari bacaan yang ringan-ringan, kemudian akan meningkat membaca sesuatu yang lebih berat lagi dan lagi. Dan pada akhirnya mereka akan mencintai budaya membaca. Dengan begitu, taraf pendidikan di Indonesia akan semakin meningkat. Dan perpustakaan serta toko buku bukan lagi hanya menjadi tempat untuk mengejar nilai di kelas, tapi menjadi tempat yang sangat menarik untuk memperoleh segudang pengetahuan.

Semua itu butuh proses yang panjang. Kenapa Indonesia bisa Merdeka? Karena adanya pejuang. Karena ada yang berkorban. Kalau ingin melakukan perubahan besar, haruslah ada pengorbanan. Entah berapa banyak orang yang mencibir dan sinis pada tulisan saya. Saya tidak perduli. Selama saya bisa membantu meningkatkan minat dan budaya membaca di Indonesia, maka saya dengan senang hati akan berkorban. Dan pada akhirnya saya akan berkata….. Ya, Saya adalah penulis novel ringan. Memangnya kenapa?

Buat kamu yang sudah datang ke web ini dan membaca isinya, selamat kamu telah berkontribusi dalam meningkatkan budaya membaca di Indonesia.

Cheers,
Dyan

swbutswbutswbut

Memangnya Kenapa Kalau Saya Penulis Teenlit?

Kata orang, jadi penulis itu gampang. Tua-Muda, Laki-Perempuan, Kaya-Miskin, Cantik- Jelek, semua bisa bisa jadi penulis. Saya jadi teringat saat pertama kali saya menulis. Banyak sekali orang-orang yang memandang sebelah mata, mencibir, bahkan menjelek-jelekkan tulisan saya. Menganggap saya anak kecil yang sok tau dan hanya bisa membuat tulisan-tulisan ringan yang tidak berbobot. Wajar memang melihat background pendidikan saya yang bukan berasal dari Sastra, nilai Bahasa Indonesia saya yang memang biasa-biasa saja, dan banyak hal lain dalam diri saya yang cukup sulit membuat orang mempercayai kalau saya seorang penulis. Semua bentuk pandangan sinis membuat saya sadar bahwa semua orang, termasuk saya yang bukan apa-apa ini bisa jadi penulis. Tapi menjadi penulis seperti apa dan untuk apa? Itu pertanyaannya…

“Bahasa tulisan kamu terlalu ringan. Seharusnya kamu bisa membuat tulisan yang lebih mendalam dari itu.”

Lalu kenapa kalau saya menulis novel ringan?
Lho, saya kan bukan profesor yang biasa menuliskan hal-hal yang berat. Kenapa harus dipermasalahkan?
Saya hanyalah seseorang yang menginginkan minat baca generasi muda Indonesia meningkat. Dan masyarakat bisa memiliki pilihan bacaan yang beragam.
Saya tidak terlalu perduli orang mau bilang apa tentang tulisan saya. Tapi yang jelas menurut saya, cara agar membuat seseorang yang sama sekali tidak suka membaca menjadi suka membaca ialah dengan mulai memberikan bacaan. Dimulai dari bacaan yang ringan-ringan, kemudian akan meningkat membaca sesuatu yang lebih berat lagi dan lagi. Dan pada akhirnya mereka akan mencintai budaya membaca. Dengan begitu, taraf pendidikan di Indonesia akan semakin meningkat. Dan perpustakaan serta toko buku bukan lagi hanya menjadi tempat untuk mengejar nilai di kelas, tapi menjadi tempat yang sangat menarik untuk memperoleh segudang pengetahuan.

Semua itu butuh proses yang panjang. Kenapa Indonesia bisa Merdeka? Karena adanya pejuang. Karena ada yang berkorban. Kalau ingin melakukan perubahan besar, haruslah ada pengorbanan. Entah berapa banyak orang yang mencibir dan sinis pada tulisan saya. Saya tidak perduli. Selama saya bisa membantu meningkatkan minat dan budaya membaca di Indonesia, maka saya dengan senang hati akan berkorban. Dan pada akhirnya saya akan berkata….. Ya, Saya adalah penulis novel ringan. Memangnya kenapa?

Buat kamu yang sudah datang ke web ini dan membaca isinya, selamat kamu telah berkontribusi dalam meningkatkan budaya membaca di Indonesia.

Cheers,
Dyan

swbutswbutswbut

Memangnya Kenapa Kalau Saya Penulis Teenlit?

Kata orang, jadi penulis itu gampang. Tua-Muda, Laki-Perempuan, Kaya-Miskin, Cantik- Jelek, semua bisa bisa jadi penulis. Saya jadi teringat saat pertama kali saya menulis. Banyak sekali orang-orang yang memandang sebelah mata, mencibir, bahkan menjelek-jelekkan tulisan saya. Menganggap saya anak kecil yang sok tau dan hanya bisa membuat tulisan-tulisan ringan yang tidak berbobot. Wajar memang melihat background pendidikan saya yang bukan berasal dari Sastra, nilai Bahasa Indonesia saya yang memang biasa-biasa saja, dan banyak hal lain dalam diri saya yang cukup sulit membuat orang mempercayai kalau saya seorang penulis. Semua bentuk pandangan sinis membuat saya sadar bahwa semua orang, termasuk saya yang bukan apa-apa ini bisa jadi penulis. Tapi menjadi penulis seperti apa dan untuk apa? Itu pertanyaannya…

“Bahasa tulisan kamu terlalu ringan. Seharusnya kamu bisa membuat tulisan yang lebih mendalam dari itu.”

Lalu kenapa kalau saya menulis novel ringan?
Lho, saya kan bukan profesor yang biasa menuliskan hal-hal yang berat. Kenapa harus dipermasalahkan?
Saya hanyalah seseorang yang menginginkan minat baca generasi muda Indonesia meningkat. Dan masyarakat bisa memiliki pilihan bacaan yang beragam.
Saya tidak terlalu perduli orang mau bilang apa tentang tulisan saya. Tapi yang jelas menurut saya, cara agar membuat seseorang yang sama sekali tidak suka membaca menjadi suka membaca ialah dengan mulai memberikan bacaan. Dimulai dari bacaan yang ringan-ringan, kemudian akan meningkat membaca sesuatu yang lebih berat lagi dan lagi. Dan pada akhirnya mereka akan mencintai budaya membaca. Dengan begitu, taraf pendidikan di Indonesia akan semakin meningkat. Dan perpustakaan serta toko buku bukan lagi hanya menjadi tempat untuk mengejar nilai di kelas, tapi menjadi tempat yang sangat menarik untuk memperoleh segudang pengetahuan.

Semua itu butuh proses yang panjang. Kenapa Indonesia bisa Merdeka? Karena adanya pejuang. Karena ada yang berkorban. Kalau ingin melakukan perubahan besar, haruslah ada pengorbanan. Entah berapa banyak orang yang mencibir dan sinis pada tulisan saya. Saya tidak perduli. Selama saya bisa membantu meningkatkan minat dan budaya membaca di Indonesia, maka saya dengan senang hati akan berkorban. Dan pada akhirnya saya akan berkata….. Ya, Saya adalah penulis novel ringan. Memangnya kenapa?

Buat kamu yang sudah datang ke web ini dan membaca isinya, selamat kamu telah berkontribusi dalam meningkatkan budaya membaca di Indonesia.

Cheers,
Dyan

swbutswbutswbut

24 hours on The Road

Postingan kali ini saya akan bercerita tentang mudik saya tahun ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya dan keluarga memang biasa mudik ke rumah Eyang di Solo (*damn I really miss that place). Desa tempat eyang tinggal bernama desa kaliwungu. Yah… sekitar satu jam dari solo, kalo naik mobil pastinya. Dan butuh kira-kira 7 km dari jalan raya menuju ke desa ini. Kebayang kan gimana “desa”-nya?

Dari kecil keluarga saya memang telah membiasakan saya dan kakak saya untuk pulang mudik ke Kaliwungu. Jadi yang namanya perjalanan jauh naik mobil pribadi bukan masalah lagi buat saya. Dari mulai minum antimo, udel di tensoplas, tidur dari mulai berangkat-tiba, muntah setiap ada tikungan,  udah pernah saya rasain semuanya. Hingga saya dewasa dan mulai merasa jarak Jakarta-Solo seperti dari Citos ke PIM. Dekeeet banget! Papa yang udah dua puluh tahun lebih biasa menyetir mobil Jakarta-Solo juga udah nyante banget.  Sopir-sopir truk mah lewaaat…. bahkan kadang mereka sering saling menyapa di perjalanan seperti sahabat karib.

Entah apa yang membuat saya berpikir bahwa tradisi mudik di Indonesia ini betul-betul unik. Bayangin aja, pada waktu yang sama orang-orang ramai-ramai meninggalkan kota besar untuk ke desa. Mau macet, boros, jauh, tetep aja dijabanin. Mau naik kereta ayam, mobil sendiri, bus atau pesawat tetep dibela-belain. Para pemudik ibarat para pejuang kemerdekaan yang siap berperang. Tapi satu kendaraan yang selalu saya dan sekeluarga tunggu-tunggu pada sat perjalanan mudik. BAJAJ. Apa??? Bajaj?? Yups, hampir setiap kali perjalanan mudik, kami bertemu dengan si Bajaj edan itu yang nggak mau ketinggalan ikut bermacet-macetan di jalanan (FYI, Bajaj itu cuma ada di Jakarta). Bajaj ajaib itu menjadi tontonan yang lumayan menghibur disela-sela kemacetan. Saya nggak kebayang gimana rasanya mudik dari Jakarta-Solo naik bajaj. Saya aja yang naik mobil sendiri udah salting mereeng sana, mereeng sini, tengkurep, nungging, pokoknya ribet cari posisi enak secara perjalanannya lumayan lama bo. Gimana mereka yang naik bajaj, ya? Pasti lebih heboh dan seru!

Mudik kali ini merupakan mudik yang paliiing paaaanjaaang dan laaaammaaaa…… kenapa??? Karena baru kali ini saya merasakan berada di dalam mobil selama 24 jam. Biasanya jarak Jakarta-Solo cuma 12 jam. Kami berangkat pukul 23.00 hari kamis dan baru nyampe di rumah Eyang pukul 23.00 hari jumatnya. TEPAAT! perlu diulangi lagi?TEPAT! jam sebelas malem. Mana waktu itu lagi puasa. Dan hal yang paling menyedihkan saat itu adalah, pada saat kami tiba di daerah Subang Jawa-Barat. Sini biar saya deskripsikan keadaan disana saat itu. Siang itu jam 11 siang, dan mobil kami nggak jalan sama sekali di daerah itu selama hampir 5 jam. Mana matahari terik banget. Belum lagi pemandangan kiri-kanan jalan yang sangat menyedihkan. Jangan harap kalian melihat hamparan sawah hijau, gunung, dan perkebunan yang segar. Sejauh mata memandang, tema background kita adalah KUNING. Ya, kuning gersang, tandus, pohon-pohon tanpa daun, tanaman kering kerontang semakin membuat kering tenggorokkan yang belum tersentuh air semenjak saur tadi. Udah gitu banyak banget tukang-tukang jualan yang saya bayangkan memiliki tanduk dan buntut panjang menawarkan potongan semangka merah, ice cream, dan es kelapa muda… Tidaaak!!! tenang chiel… sabar…sabar… ini cobaan. Yang lebih mengerikan, lagi tenang-tenang mengantri ditegah kemacetan, eeh… ada aja mobil-mobil yang nggak tau diri menyerobot2 dari sebelah kanan, yang nggak sabaran pengen duluan padahal malahan membuat jalanan semakin macet. JAHANAAAM!!! (sabar chiel….sabaaar…Ya Allah, maafkan aku.) Papa yang punya cadangan kesabaran cukup banyak cuma mengetuk stir mobil sambil berkata pelan, “Aduh, udah tau macet kok masih ada yang tega gitu sih?” hey, Pa, bukan gitu caranya, ucap saya dalam hati. Tapi gini, “Brengsek!!! Manusia apa bukan sih? Dasar Tolol! Nggak punya otak ya, lo? Lo pikir ini jalanan nenek moyang lo? Nggak pernah diajarin cara ngantri ya? Main sradak-sruduk aja! Nggak punya Etika!JAHANAAM!!!” huahahaha…. untung kata-kata itu nggak sampai keluar dari mulut saya, Jadinya saya cuma senyam-senyum aja membayangkan seandainya jalanan ini nggak macet, seandainya tukang-tukang jualan itu nggak pamer dagangan, seandainya….seandainya…seandainya…