March, 2009

now browsing by month

 

Jaga diri lo baik-baik

“Elo tau PT?”
Saya menggelengkan kepala. PT? Apaan tuh? Perseroan terbatas? Dalam hati saya masih bertanya-tanya. Cukup aneh anak SMP seperti saya waktu itu untuk berteman dekat dengan orang-orang yang menurut sebagian orang tua adalah orang yang tidak jelas, tidak bermasa depan, dan harus dijauhi dari anak-anak mereka bagaimanapun caranya.
“PT itu singkatan dari Putau. Sejenis heroin,” jawab teman saya dengan wajah seperti biasanya. Mata cekung, kulit hitam layaknya penyanyi R&B, dan badan kurus tinggi. Entah kenapa saya tidak pernah merasa takut dengannya. Meskipun umurnya berbeda jauh dan image-nya dimata orang-orang di lingkungan saya lumayan buruk.
Saya memandangnya dalam diam, menunggu reaksi dia selanjutnya.
“Bentuknya serbuk putih kayak begini. Kalau make bisa langsung nge-fly,” ucapnya sambil menunjukkan sebuah serbuk menyerupai gerusan kapur tulis.
Saya mulai cemas. Apa maksud teman saya berbicara seperti itu pada saya? Jangan-jangan dia mulai ingin mempengarhi saya untuk menggunakan benda-benda tersebut. Tapi saya tak percaya kalau dia bisa tega melakukan itu pada saya.
Saya tau betul dia orang seperti apa. Korban ketidak perdulian orang tua, korban diskriminasi sosial, tak pernah lepas dari alcohol dan drunk people disekelilingnya, selalu dipandang sinis dan sebelah mata oleh orang-orang, dan beberapa kaum borjuis memandangnya sebagai preman, pemalak, atau apalah namanya. Tapi setiap kali saya pulang sekolah dan menyempatkan diri datang ke warung tempat tongkrongannya dengan teman-teman, dia berubah menjadi sosok yang sangat bijaksana. Kami mampu mengobrol berjam-jam lamanya, saling tukar pikiran, bernyanyi-nyanyi dengan gitar dan terkadang saling menasehati. Saya pun kenal dengan semua teman-temannya di tongkrongan tersebut yang kerap kali mengajak saya bermain basket.
“Ngapain elo ngasih tau gue?”
Ia memegang kepala saya, “Kalau elo ditawari orang benda model beginian, jangan pernah elo sentuh apalagi elo ambil. Lo bilang orangnya sama gue.”
Saya merasakan keseriusan pada nada suaranya. Dari sejak pertama kali saya mengenal dia, dia memang selalu memperlakukan saya seperti itu. Ia pernah memukuli teman lelaki saya hanya karena teman saya mencoba mengajak saya merokok. Ia pun pernah hampir berkelahi dengan temannya sendiri ketika temannya ingin memalaki saya. Ia juga pernah mencarikan tempat yang aman untuk saya ketika terjadi tawuran antar kelompoknya. Bahkan dia orang pertama yang membuat saya dapat melakukan three-point dalam permainan basket, mengecoh kiper ketika bermain sepak bola, dan  mengajari saya bagaimana cara melindungi diri dari orang-orang jahat. Saya merasa memiliki kakak yang baik. Kadang ia pun memanggil saya dengan sebutan adik.
“Udah mau lulus, ya?” tanyanya suatu hari ketika saya menunjukkan raport saya padanya sewaktu kenaikkan kelas. Ia lalu tersenyum pada saya. “Bagus deh. Sekolah yang rajin ya. Jangan bandel. Mudah-mudahan elo jadi orang sukses.”
“Hehe… thanks, ya…” saya menyengir sambil meninju-ninju lengannya. Saya tak pernah menyangka kalau itu adalah hari terakhir saya dapat melihatnya.
Sore hari terjadi perkelahian besar-besaran di depan sekolahan saya. Semua siswa berusaha dilindungi oleh satpam sekolah dengan disuruh masuk kedalam sekolah.  Teman-teman satu sekolah saya berusaha berlindung kedalam ruang-ruang kelas. Justru saya yang diam-diam berusaha melihat keluar dengan memanjat pagar samping sekolah.  Kejadian itu masih saya ingat dengan jelas sampai detik ini. Saya melihat orang-orag berkelahi dengan brutalnya. Beberapa orang adalah anak tongkrongan yang saya kenal. Saya melihat ada yang dilempar botol kepalanya, ada yang dijambak rambutnya, dan lain-lain. Balok kayu nampak jelas di tangan beberapa orang dan dengan mudahnya diarahkan ada tubuh teman-teman saya. Saya memandang dalam diam sambil berusaha melindungi diri di balik tembok sekolah.
Saat itu ketika suara sirine polisi bergema, saya terpaku melihat teman saya yang selama ini baik terhadap saya digelandang oleh dua orang polisi. Wajahnya tampak lelah dan marah. Saya ingat air mata saya tak terbendung lagi ketika ia sempat menengok kearah saya dengan wajah datar tanpa berkata apa-apa. Seakan ia menegaskan kepada saya kalau saya harus menjaga diri dan ia sebenarnya tak mau saya melihat itu semua.
Sejak kejadian itu, teman saya tak pernah terlihat lagi. Tongkrongan pun mulai sepi. Kabar yang saya dengar, teman saya itu di penjara. Satpam sekolah selalu mengata-ngatai teman saya itu setiap kali saya bertanya tentangnya.  Saya tak perduli. Tau apa dia soal teman saya? Saya pun meluapkan kesedihan saya pada Mama. Selama ini Mama memang tak pernah melarang saya untuk berteman dengan siapapun. Asalkan saya tau batas-batasnya. Beliau sangat  percaya pada saya. Itu yang membuat saya selalu berusaha untuk tidak mengecewakannya.
Waktu berjalan sangat cepat. Saya pun sudah hampir menyelesaikan jenjang SMU. Suatu hari ketika saya hendak pulang ke rumah, di dalam bus kota, saya melihat sosok yang begitu familiar di pikiran saya. Saya melihat teman saya itu mengamen di dalam bus yang sama. Ketika mata kami beradu pandang, entah kenapa ia berusaha menghindar. Saya pun ragu ingin menyapanya. Ragu karena takut salah orang, dan ragu karena takut ia sudah lupa dengan saya.
Tapi ketika ia turun di tempat yang sama dengan saya, saya berhasil meyakinkan diri saya kalau orang itu memang dia. Berarti dia sudah keluar dari penjara. Tapi kenapa ia begitu buru-buru menyeberangi jalan dan berlalu dari hadapan saya? Saya berusaha memanggil namanya berkali-kali. Tapi ia tak mendengar. Ia nampak menaiki bus lain. Apa dia benar-benar sudah melupakan saya?
Terlepas dari itu semua, saya begitu bersyukur telah mengenalnya. Ia membuat saya untuk belajar menilai seseorang bukan dari penampilan dan bukan dari image orang lain. Tapi dari cara seseorang memperlakukan kita. Kalau selama ini ia bersikap baik kepada kita, persetan dengan orang-orang yang membenci dia. Saya juga bersyukur kalau saat ini dia masih mau berusaha untuk mencari nafkah dengan halal. Tidak memalak, tidak mengemis, dan tidak mencuri. Saya berdoa semoga Tuhan selalu melindungi segala niat baiknya. Niat baik seseorang yang ingin berubah menjadi lebih baik…

Nama saya bertambah (Part 1)

Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi. Saya terkejut ketika melihat eyang saya sudah bangun sambil duduk menatap saya yang masih setengah sadar karena baru bangun tidur. Lho? Eyang udah bangun? Pikir saya dalam hati.
Hari ini memang hari yang sangat dinanti-nantikan oleh eyang putri. Saat dimana cucu terakhirnya diwisuda. Selama ini, setiap kali saya pulang ke Solo, eyang selalu menanyakan hal yang sama, “Kapan diwisudanya?” terlihat sekali kalau eyang sangat menginginkan hal itu. Dua tahun yang lalu sewaktu kakak saya diwisuda, eyang putri juga hadir. Dan rasa bangga sangat jelas terlihat di wajahnya saat itu. Matanya nampak berkaca-kaca.
Tapi hari ini, saya yang meneteskan air mata melihat beliau dengan fisik yang lemah ngotot ingin mengantarkan saya wisuda di JCC. Ketika turun dari mobil, eyang memegang tangan saya erat sambil berusaha melangkahkan kakinya perlahan. Dari situlah saya menyadari kalau eyang putri tidak lagi sekuat dulu. Eyang yang bisa naik-turun gunung tanpa lelah, eyang yang bisa menggarap sawahnya sendiri, berjalan kaki berkilo-kilo meter dari rumahnya dan eyang putri yang dulu sering menjemput cucu perempuannya (saya) yang nakal mancing di kali yang cukup jauh dari rumah solo.

Di lokasi Plenary hall, seperti wisuda pada umumnya, para wisudawan duduk di lantai bawah. Sedangkan para undangan duduk di tribun atas. Selama acara, mata saya tak henti-hentinya menatap kearah eyang, mama, dan papa yang terduduk di tribun atas. Eyang dengan sabar mengikuti jalannya acara wisuda. Saya tau kalau eyang pasti sangat lelah. Saya saja merasa sangat capek, bosan dan mengantuk. Tapi setiap kali melihat beliau, semangat saya kembali datang. Saya tidak boleh kalah dengan rasa capek, bosan, dan mengantuk.
Ketika nama saya dipanggil untuh memindahkan kuncir, saya melihat eyang tersenyum sangat bahagia. Kerutan di wajahnya sampai tertarik saking lebar senyumnya. Sebelum saya naik ke panggung pun saya menyempatkan diri melambaikan tangan saya kearahnya. Dalam hati saya berkata, “Eyang, mama, papa, ini semua untuk kalian. Cuma ini yang bisa saya berikan.” Eyang pun balas melambaikan tangan dengan tawa kecil. Entah kenapa saat itu saya meneteskan air mata. Saya tak perduli lagi dengan make-up yang yang menempel di wajah, kebaya yang membuat saya sesak napas, kain yang membuat saya sulit berjalan, dan sepatu hak tinggi yang membuat kaki saya lecet-lecet. Semua seakan tergantikan dengan senyum bahagia mereka. Bahkan ketika Prof. Darsono, dosen yang sangat saya kagumi dan hormati sejak awal kuliah memindahkan kuncir topi saya, mata saya masih basah oleh air mata.
Sebenarnya saya adalah orang yang sulit menangis. Saya selalu berusaha menenangkan diri setiap kali mendapatkan masalah agar saya tidak cengeng. Tapi kenapa hari itu saya merasa begitu terharu? Begitu cengeng.
Saya memang bukan wisudawan yang memperoleh penghargaan karena IPK tertinggi. Tapi saya merasa amat sangat bersyukur. Tuhan begitu baik pada saya. Saya ditunjukkan senyum bahagia kedua orang tua dan nenek, sidang saya memperoleh nilai sempurna, dan skripsi saya berhasil masuk ke dalam BAI 2009 di Malaysia. Belum lagi saya sidang skripsi tepat sehari setelah saya berulang tahun ke-23. Dan tanpa disangka, orang-orang yang saya sayangi hadir semua ke kampus untuk menyuport. Inilah kado ulang tahun terindah untuk saya.  Wisuda saya juga tepat sehari sebelum ayah saya berulang tahun. Saya begitu bahagia dan bersyukur.
Tepat pada hari ini, seperti judul tulisan ini, nama saya bertambah panjang. Dyan Nuranindya, S.E. Tapi ini baru perpanjangan tahap satu. Mengapa? Karena saya berharap nama saya akan jauh lebih panjang lagi. Mungkin Tuhan akan memberikan rejeki untuk saya untuk mengambil S2, S3, atau apapun. Mungkin juga suatu hari nanti saya bisa naik haji, atau suatu hari nanti Tuhan memberikan  saya seorang lelaki baik hati yang meminang saya sehingga namanya akan berada di belakang nama saya.  Saya bersyukur apapun yang diberikan Tuhan. Semoga akan ada part II, part III, dan seterusnya. Amin.

Masih adakah diskriminasi di dunia ini?

Baru-baru ini saya senang membaca buku-buku tentang sejarah yang berhubungan dengan perjuangan kaum wanita. R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Anne Frank dan Mother Theresa. Saat tangan saya menutup lembar terakhir buku tersebut, pikiran  saya langsung menerawang jauh kedalam diri saya. Pernah tidak ya, saya mengalami diskriminasi gender selama saya hidup? Masih adakah diskriminasi di dunia ini?

pahlawan

Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang beberapa waktu belakangan ini sempat berputar-putar di pikiran saya. Dulu sebelum seorang wanita asal Jepara yang terkenal dengan nama Raden Ajeng Kartini muncul, derajat kaum wanita Indonesia dianggap selalu berada di bawah kaum lelaki. Hal tersebut dapat terlihat dari segi pendidikan, pekerjaan, bahkan hak untuk memilih pasangan hidup. Image perempuan yang selalu berada di dapur melekat kuat di hampir seluruh masyarakat Indonesia. Saya yang terlahir di lingkungan keluarga Jawa asli (solo) juga amat kental dengan image tersebut.
Tapi jaman sekarang apakah diskriminasi gender masih ada? Melihat saat ini bukan tidak mungkin seorang supir taksi adalah seorang wanita, kenek metro mini, seorang buruh bangunan juga seorang wanita, bahkan seorang pimpinan pun seorang wanita. Saya lebih setuju kalau saat ini bukanlah diskriminasi gender yang mendominasi. Tapi justru diskriminasi orang jelek! Bukannya saya sirik dengan para wanita-wanita cantik di luar sana karena menurut saya kecantikan menjadi sangatlah relatif melihat semakin maraknya ahli-ahli kecantikan dan kosmetik-kosmetik yang dapat dengan mudah merubah penampilan seseorang hanya dalam waktu singkat.
Diskriminasi orang jelek? Rasanya aneh mendengar kata tersebut. Tapi jujur saja saya mengalaminya sendiri haha… Saya amat sangat bersyukur dengan fisik yang saya miliki saat ini. Meskipun saya memiliki kulit kecokelatan, postur tubuh pendek dan bentuk badan yang sangat jauh dibandingkan dengan para model di catwalk. Tapi setidaknya saya terlahir normal. Memiliki mata, hidung, mulut, telinga, tangan, kaki, dan semua anggota tubuh yang terdapat pada manusia normal. Dan saya bersyukur.
Tapi dulu sangat sulit bagi saya untuk bisa ‘dianggap’ di lingkungan saya secara lebih manusiawi. Saya selalu dianggap remeh dan ‘kecil’. Saya harus bekerja ekstra keras. Saya harus melakukan sesuatu yang luar biasa untuk bisa sedikit dianggap. Berbeda sekali dengan perempuan-perempuan yang ditakdirkan memiliki fisik sempurna, putih, cantik dan kaya meskipun kami sama-sama manusia. Hanya dengan jentikkan tindakkan baik, mereka akan dianggap telah melakukan tindakan yang super duper baik. Sangat diskriminatif. Tapi justru hal tesebut yang membuat otak saya terus-menerus bekerja untuk membuat sesuatu yang lebih kreatif dan luar biasa dengan modal seadanya. Saya lebih bisa menghargai diri saya sendiri dan memahami arti kerja keras. Saya tak mau terus menjadi looser. Saya harus jadi winner.
Saya sering berpikir bahwa sebagian besar orang yang dianggap looser lebih dikarenakan oleh faktor lingkungan yang memaksanya menjadi sosok seperti itu.  Mana mungkin ada seseorang yang mau dirinya dianggap looser. Saya berteman dengan banyak orang-orang seperti itu. Beberapa diantara mereka malah berperilaku semakin aneh, rela dijadikan bahan tertawaan hanya untuk membuat dirinya dianggap di lingkungannya.  Kecuali jika memang profesi mereka adalah seorang komedian. Itu lain ceritanya.
Sebagai seseorang yang pernah merasakan hal yang sama, saya mati-matian berkata bahwa mereka  harus belajar menganggap diri mereka jauh lebih berharga. Dan orang-orang itu tak berhak memperlakukan mereka seperti itu.  Segala sesuatu bisa terjadi jika kita dapat menggenggam dunia kita sendiri dan jangan pernah membiarkan orang lain menguasai diri kita, merebut dunia dari genggaman kita. Jangan mau jadi korban diskriminasi fisik. Karena… kita semua adalah spesial. Dan setiap orang berhak untuk menjadi pemenang.

Idealism vs commercialism

Saya bukan orang yang ahli dalam hal idealisme dan komersialisme. Saya hanyalah seorang perempuan yang mencoba melakukan segala sesuatunya secara seimbang dalam kehidupan.  Saya tak pernah mau jadi hitam seutuhnya. Saya pun tak pernah mau jadi putih seutuhnya. Saya ingin abu-abu. Saya ingin netral. Karena saya menyadari tak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Meski saya menyadari kalau saya selalu berusaha untuk berjalan menuju putih seutuhnya. Tapi putih menurut siapa dan dari kacamata siapa? Hanya diri saya yang bisa menjawabnya.
Baru-baru ini saya menghadiri sebuah acara musik Indie di  salah satu wilayah di Jakarta. Saya memang senang menghadiri acara musik seperti ini. Karena saya melihat kebebasan ekspresi yang terpancar jelas disana. Tidak terkekang dan tidak terintimidasi. Saya pun bebas datang kesana tanpa harus repot-repot dandan berjam-jam atau memilih baju yang bisa terlihat oke disana. Selain itu juga karena ada beberapa band yang memang saya dan teman-teman ingin tonton. Jadi berangkatlah saya dan tiga orang teman saya ke tempat tersebut naik Kopaja.
Tiba di tempat acara, saya disapa dengan lautan orang-orang berpakaian hitam. Saya dan ketiga teman saya yang memang lumayan sering datang ke acara sejenis langsung bertemu dengan teman-teman kami disana.
“Hey!” seseorang menepuk pundak saya. Saya menengok dan mendapati seorang kawan yang merupakan salah satu vokalis band indie tersenyum lebar kearah saya. Saya pun langsung sumringah melihatnya karena setelah dipikir-pikir sudah lama juga saya tak bertemu dengannya.
“Band lo manggung juga?” tanya saya ditengah hingar-bingar musik.
“Iya. Lo pasti baru dateng deh? Makanya nggak ngeliat gue manggung.”
Saya mengangguk. “Elo pasti gokil deh di panggung. Gue udah bisa bayangin kok,” ucap saya sambil nyengir. Kami berdua pun langsung tertawa.
“Masih nulis novel?”
Mendadak bayangan novel stabillo pink terlintas di pikiran saya. “Masih, lah. Kenapa? Mau tukeran profesi sama gue? Gue jadi vokalis, elo jadi penulis. Hahaha…,” ujar saya sambil tertawa. Teman saya itu adalah salah satu orang yang terheran-heran ketika tahu saya menjadi penulis novel teenlit. “Orang kayak elo nulis novel begituan?” itulah ucapannya pertama kali. Apalagi ketika ia tau kalau novel pertama saya berwarna pink. “Pinky? Huahaha…. bukannya elo nggak suka warna pink?” itu juga kata-katanya waktu itu.
“Terus nulis ya, Chiel…,” ucapnya pelan.
Saya menatap wajahnya dengan heran. “Hey, kenapa elo jadi mellow gitu?”
“Kalo bukan karena elo, mungkin cowok kayak gue nggak akan pernah suka baca novel. Lo percaya nggak kalau novel elo adalah novel pertama yang gue baca tuntas.”
“Alaaah… bilang aja elo mau nyenengin gue doang. Lo baca karena yang nulis temen elo sendiri. Biar elo bisa bebas nyela-nyela gue, kan?”
“Yeee…Beneran, Chiel! Secara nggak langsung misi yang pernah elo bilang ke gue, berhasil gue rasa. Yaah… setidaknya untuk orang seperti gue. Gue jadi suka baca. Gue awali dari baca novel lo, ” jawabnya. “Menurut gue, kalau kita mau sukses, semua harus berjalan seimbang. Antara idealisme dan komersialisme harus bisa seimbang.”
“Pasti bentar lagi elo mau nyela gue, deh!” ucap saya masih penuh curiga. “Cela gue aja terus. Gue udah kebal! Hahaha…”
Saya tertawa. Sebenarnya dalam hati saya berpikir keras. Saya mengingat saat pertama kali saya menerbitkan novel. Saya  sudah bisa memprediksi kalau nanti pasti akan banyak pro dan kontra. Saya pun bilang ke Mama, “Mah, nanti pasti bakalan ada yang suka dan nggak suka sama novel aku. Mama tenang aja ya. Aku udah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.”
Cuma satu yang saya inginkan saat itu. Saya ingin meningkatkan minat baca di Indonesia. Itulah idealisme saya. Saya tak perduli apakah nanti akan ada orang yang mencaci, menjelek-jelekkan atau bahkan menjatuhkan novel saya. Saya tahu betul kalau novel saya sangat ringan dibaca. Dengan bahasa seadanya, khas anak muda dan dengan cerita cinta yang ringan juga. Mungkin dengan adanya novel-novel ringan, orang akan lebih senang membaca. Dimulai dari yang ringan dulu. Kemudian akan meningkat ke bacaan yang lebih berat. Berkembang terus dan terus. Buat saya, kesuksesan sebuah novel bukan karena laku-tidaknya novel tersebut. Itu hanyalah sebuah bonus semata. Kesuksesan sebuah novel menurut saya adalah ketika pesan atau tujuan dari novel tersebut dapat berhasil sampai dengan baik ke pembaca. Saya pun senang ketika banyak sekali penulis-penulis yang bermunculan dengan gaya berbeda-beda. Hal itu membuat masyarakat semakin senang ke toko buku karena banyaknya pilihan bacaan. Semoga minat baca dan ilmu pengetahuan di Indonesia dapat semakin berkembang.
“Mungkin… gue kepikiran untuk jadi penulis,” ucap teman saya tiba-tiba.
Saya tersenyum, “Mungkin…. gue juga kepikiran untuk jadi vokalis kok.”
“Kita tukeran aja, gimana?”