January, 2009

now browsing by month

 

Indie Label

Saya termasuk orang yang sangat tidak perduli apakah sebuah musik yang saya dengarkan, buku yang saya baca, atau film yang saya tonton merupakan barang indie label atau bukan. Selama saya merasa nyaman dan senang, saya pasti akan menikmatinya. Kemarin saya membongkar-bongkar lemari berisi kaset, CD, dan DVD di kamar saya. Saat itu saya baru menyadari kalau ternyata saya termasuk penggemar kaset-kaset dan DVD film indie. Siksa kubur, Dead maya, As I lay dying, Homogenic, Seringai, Bunga Hitam, Tony Q ada di tumpukkan paling atas koleksi kaset saya. Film seperti Before Sunset dan Before Sunrise, Beth, juga ada di rak saya. Telinga dan mata saya memang senang mendengar dan melihat segala sesuatu yang unik dan jarang. Meskipun saya juga bisa menikmati sesuatu yang familiar dan biasa. Untungnya saya memiliki telinga dan mata yang tidak sok idealis. Saya tidak pernah mengkotak-kotakkan sebuah genre musik, buku, atau film. Selama karya tersebut bagus, saya pasti bisa menikmatinya. Saya berpikir bahwa semua karya adalah bagus. Semua karya adalah menarik. Hanya selera orang saja yang berbeda.
Novel pertama saya dulu juga bisa disebut indie. Karena saya menulis, memproduksi, membuat cover dan mendistribusikannya sendiri dengan modal yang sangat minim. Sama sekali tidak terpikir untuk memperoleh keuntungan secara materi dari sana.
Dulu saya begitu heran mengapa teman-teman saya jarang sekali yang suka membaca. Mungkin karena mereka menganggap kalau buku-buku dapat membuat mereka menjadi semakin pusing karena otak mereka sudah nyaris gila dengan berbagai hafalan dan rumus pelajaran. Belum lagi kalau mereka melihat buku-buku yang tebalnya bisa sebagai penopang tubuh saat mengganti lampu kamar. Akhirnya perpustakaan sekolah hanya menjadi sarana untuk tidur dan cabut dari pelajaran yang memuakkan. Bagaimana negara kita mau maju kalau begini caranya? Padahal selama ini saya menganggap perpustakaan dan toko buku adalah sarana rekreasi yang paling murah. Kita bisa menjelajahi segala sisi dunia hanya di satu tempat.
Back to the topic, sangat disayangkan memang kalau band-band, film, dan buku indie di Indonesia kurang mendapat perhatian dan terbebani dengan masalah biaya yang minim. Padahal saya merasa di negara kita ini sangat banyak band-band, film, dan buku yang seharusnya di blow-up agar masyarakat Indonesia menyadari betapa beraneka ragamnya bangsa kita. Akhirnya banyak pelaku indie yang lebih memilih untuk beralih ke sektor yang lebih menjanjikan secara penuh.
Saya salut dengan band-band seperti Mocca yang sanggup menembus batas ke-indie-annya tanpa harus mencelakakan musik mereka. Musik mereka tetap aman. Dan saya yakin kalau kesuksesan mereka berasal dari perjalanan panjang yang penuh kerikil tajam. Itulah inti dari semuanya. Kerja keras.
Sewaktu saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program IVL di Amerika, saya cukup takjub dengan organisasi-organisasi ‘gila’ yang ada di sana. Banyak sekali organisasi diluar pemerintah yang mendukung para pelaku-pelaku Indie. Mereka memiliki tempat berkumpul yang layak, fasilitas yang memadai, manajemen yang baik, media dan distribusi yang profesional, infrasruktur, dan sumber daya manusia yang sangat OK. Hasilnya? Mereka dapat survive karena seluruh elemen masyarakat mendukung mereka. Aware dengan keberadaan mereka. Mungkin juga karena image yang mereka bangun di tengah-tengah masyarakat sangatlah baik dan positif. Para anggota organisasi-organisasi tersebut tak segan-segan membuka kelas gratis untuk anak-anak kecil, membantu dalam setiap project sosial dengan terjun langsung ke lapangan tanpa bantuan pemerintah. Sehingga mereka dapat berkembang dan terus hidup tanpa harus berpikir pasar.
Dari situ saya mulai menyadari betapa egoisnya masyarakat kita. Selalu mementingkan diri sendiri. Padahal seandainya semua elemen masyarakat dapat menurunkan sedikit ego mereka dan mau bekerjasama, pastilah semua dapat memperoleh keuntungan sama rata dari sana. Yang terjadi saat ini adalah keuntungan yang berat sebelah karena banyak orang selalu berpikir untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dan lebih. Tapi saya juga menyadari kalau saya pun masih egois. Mungkin saya akan memulai membenahinya dari diri saya sendiri. Bagaimana dengan kalian?

Bungee jumping

Mentang-mentang sedang dalam masa pengangguran, pola hidup saya menjadi kurang teratur. Bangun pagi, shalat subuh, tidur lagi dan bangun sangat siang. Sangat tak sehat.  Siang hari kerjaan saya hanya di kamar sambil melihat berita di televisi. Akhir-akhir ini, dalam jangka waktu yang hampir berdekatan, saya dibuat tercengang dengan tren yang terjadi di Indonesia. Percobaan bunuh diri dengan terjun dari lantai atas gedung. Saya memang pecinta ketinggian. Tapi saya tak pernah  sekalipun berpikir untuk bungee jumping dari sebuah tower tanpa pengaman sama sekali.
Saya sempat berpikir bahwa seharusnya televisi tidak menayangkan hal-hal yang dapat memicu orang-orang untuk mencoba. Termasuk kasus percobaan bunuh diri dengan melompat dari atas tower. Itulah yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa daerah di Indonesia. Fenomena bungee jumping. Saya sangat menyadari bahwa masyarakat Indonesia sangat cerdas sehingga mampu meng-addapt budaya-budaya barat yang masuk dengan sangat mudah. Tak bisa disangkal, saya pun juga turut menjadi korban adaptasi budaya tersebut. Saat demam reality show, ajang pencarian bakat, dan chatting berkibar di Indonesia, saya juga pernah menjadi salah satu penggemarnya. Tidak fanatik memang. Tapi saya sangat menyadari bahwa hukum gossen dalam ilmu ekonomi memang berlaku dalam kehidupan. Nanti ada saatnya orang-orang akan merasa jenuh dan mencari sesuatu yang jauh lebih menarik. Anda boleh bilang saya latah. Bukankah negara kita memang terkenal dengan budaya latahnya?
Saya pernah mengadakan satu penelitian kecil. Suatu hari saya menaiki bus umum. Waktu itu bus lumayan ramai sehingga saya tidak mendapat tempat duduk. Lantas dengan tiba-tiba saya menggerakkan leher dan menatap kaget pada satu objek di luar jendela. Dan apa yang terjadi? Sebagian besar penumpang bus ikut menengok kearah tersebut dengan penasaran. Padahal yang saya lihat hanyalah seekor kucing tanpa sesuatu yang spesial disana. Dalam hati saya tertawa kecil.
Selama tidak berlebihan dan negatif, mengadaptasi budaya luar bukanlah hal yang buruk. Semua orang pasti pernah melakukannya. Tapi kalau fenomena bungee jumping tanpa pengaman seperti yang saya ceritakan diatas, itu sudah pasti adaptasi yang salah. Ingat, spiderman yang bisa loncat dari atas gedung dengan jaring laba-labanya, superman yang juga bisa loncat dari gedung dan langsung terbang, bahkan seorang gatot kaca yang dengan gagah berani melompat dari gedung hanyalah tokoh khayalan. Jika anda ingin lompat dari atas gedung dan berharap sebuah sayap akan keluar dari punggung anda. Anda mungkin berhasil. Karena mungkin anda sedang tertidur dan bermimpi. Atau mungkin anda sudah tidak ada lagi di dunia….