March, 2008

now browsing by month

 

Pernah nggak sih, salah mencintai orang?

Semua orang pasti pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Saya pun pernah. Udah nggak keitung berapa kali saya mengalami sakit hati. Sakit hati karena temen yang tukang ngegosipin, sakit hati karena orang tua yang sering ngomel-ngomel, Sakit hati karena diselingkuhi pacar dan seterusnya dan sebagainya. Berkali-kali juga saya tahu betul rasanya patah hati.

Seorang sahabat saya pernah berkata pada saya, “Dich, mental lo itu anak pecinta alam. Lo dididik untuk bisa menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.” ternyata kata-kata itu sangat berarti sekali buat saya untuk membuat saya bangkit dari keterpurukan.

Saya pernah mengalami hal yang sangat saya benci. Kecewa karena dibohongi oleh orang yang saya sayang. Ketika mengetahui itu semua, saya depresi banget. Kembali kata-kata sahabat saya tadi terngiang di telinga saya. Disitu saya berfikir kalau saya pasti bisa melewati semuanya. Saya tau caranya dan akan saya lakukan!

Buat saya, nggak ada yang salah kalo kamu mencintai seseorang. Setiap orang kan pengen dicintai. Selama ini saya berusaha untuk berfikir positif terhadap orang yang saya cintai. Mau dia itu bekas garong kek, mau dia itu bekas maling, tapi kan dia tetep manusia. Roker juga manusia, Man! Buat saya, mencintai itu berarti kita harus siap untuk sakit hati. Apalagi kalo ternyata orang yang kita cintai ternyata nggak cinta sama kita. Saya berkali-kali disakitin sama orang yang saya cintai. Sampai-sampai salah satu temen deket saya ngomong gini, “Cil, elo mah emang cewek spesialis patah hati.”

Tapi saya cuek aja. Well, kalian harus bisa belajar sesuatu dari setiap orang, kan? Saya merasa lebih bahagia kalo ternyata orang yang saya sayang bisa sukses atau paling enggak, dia bisa berubahjadi orang yang jauh lebih baik. Walaupun saya tau kalo dia juga nggak perduli apa saya sayang apa enggak sama dia. Saya sayang sama semua orang yang pernah saya kenal. Saya nggak perduli apa dia benci saya apa enggak. Waktu kecil, saya dengan mudah musuhin orang atau benci sama orang hanya gara-gara dia ngelakuin sesuatu yang saya nggak suka. Tapi pas usia saya mulai kepala dua, saya jadi berfikir buat apa sih, saya harus benci sama orang? Yang ada mah malahan saya yang sakit hati sendiri. Tambah dosa lagi karena ngomongin dia mulu!

Jadi menurut saya, kita nggak pernah salah kok kalo mencintai orang.

Saya pernah sayang banget sama orang. Tapi saya tau dia nggak terlalu sayang sama saya karena dia sering banget nyakitin saya. Saat itu saya emang nagis-nangis Bombay. Tapi well, saya rasa itu haknya dia untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu terhadap

saya. Palingan saya cuma narik nafas panjang, saya tutup mata saya, dan dalem hati saya ngomong, “Cil, lo harus siap kehilangan dia…” Yah, itu emang konsekuensinya kalo kamu sayang sama orang. Sakit memang, tapi bisa nggak sih kamu mikir kalo Tuhan itu adil banget. Selama ini saya mikir kalo saya disakitin, saya nggak boleh bales. Karena suatu hari nanti kamu akan memperoleh kebahagiaan yang jauh lebih baik. Percaya deh…

Jadi, jangan pernah berfikir kalo kamu salah mencintai orang…

MAN ARE FROM MARS, WOMEN ARE FROM VENUS?

Hah? Berarti cowok itu alien dong? Yaah… sebut saja seperti itu (*hahaha). Saya punya sebuah pengalaman yang cukup unik menurut saya. Begini ceritanya…

Seorang teman saya datang ke kamar kos saya. Tiba-tiba saja dia menangis dan memeluk saya. Saya yang baru saja habis sms pacar (*hehehe) hanya sekedar untuk memastikan kalau pacar saya baik-baik saja setelah sekian lama nggak berhubungan jelas kaget. Saking ‘hot’nya,temen saya menangis sampai sesegukkan dengan nafas terengah-engah. Dia bercerita panjang lebar dengan porsi yang menurut saya bisa melebihi episode sebuah sinetron kejar tayang. Intinya adalah ia baru saja diputus oleh pacarnya yang paling ia sayang, kemarin. Mereka udah pacaran selama tujuh tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk sebuah hubungan. Mereka pun sudah berencana untuk married. Tapi well, apa mau dikata kalau ternyata ‘alien’nya jatuh cinta pada wanita lain.

Sepajang dia bercerita, saya tak henti-hentinya melihat dari sudut pandang sang ‘alien’ agar teman saya itu dapat melihat dari dua sisi yang berbeda. Lama kelamaan dia mulai bisa mengambil jalan tengah dari permasalahannya. Saat itu sebenarnya saya menyadari bahwa bagaimanapun saya tidak benar-benar tau apa yang teman saya rasakan meskipun saya berusaha mengambil hal-hal positif yang bisa diambil dari masalahnya itu. Bagi saya sangat manusiawi sekali ia nangis-nangis kejer disaat belum lama mereka putus. Inilah makhluk Venus…

Ketika teman saya ada di pelukkan saya sambil berusaha mengontrol tangisnya, sebuah sms melayang ke hp saya. Saya membacanya dan… Dash! Mendadak saya shock berat. Saya merasa jantung saya berdetak lebih cepat. You know what? Pacar saya mengakhiri hubungan kami. Saya mulai nggak konsen dengan ucapan-ucapan teman saya. Saya bingung. Sekarang saya hampir mengerti bagaimana perasaan teman saya itu. Saat itu saya masih berusaha menahan-nahan perasaan saya. Karena saat itu saya sadar kalau posisi saya masih sebagai penenang. Dia sedang butuh saya. Dan saya harus ada…

Anyway, life must go on. Setelah hampir seminggu, teman saya agak lebih tenang. Tapi lucunya, justru saya yang malahan depresi(*telat banget!) Baru kerasa sakit banget setelahnya. God, I really lost him! Saya kehilangan orang yang saya sayangi. Apalagi setelah saya mengingat semua kenangan manis dengan pacar saya…ups!mantan saya. Ya sudahlah…

Saat itu saya merasa ungkapan men are from mars dan women are from venus tidak semuanya benar. Karena saat itu saya menggunakan metode mars untuk menanggulangi depresi saya. Saya menghilang! Saya menyelesaikan masalah hati saya sendirian tanpa teman. Saya pergi ke suatu tempat yang jauh diluar tempat tinggal saya. Untungnya dapet tiket gratisan (*hehe…maybe this is the good part) Disana saya menangis sendiri, marah-marah sendiri, bahkan kalau sampai ada orang yang mengenali saya disana mungkin mereka akan bilang kalau saya gila.

Selama seminggu saya sendirian. Berhubungan dengan sahabat-sahabat saya hanya melalui messenger dan sms. Rata-rata mereka khawatir dengan keadaan saya. Tapi di tempat itu saya merasa lebih tenang meskipun ada satu hal yang sebenarnya saya ketahui mangenai mantan saya itu yang membuat saya merasa kecewa. Ada bagusnya juga saya depresi. Karena jemari saya menjadi semakin lihai menari diatas laptop untuk menulis berjuta-juta kata. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke inbox saya. Dari salah satu sahabat terbaik saya. Begini bunyinya. “Dich, gw harap semua baik-baik aja disana. Kalo ada apa-apa, please let me know!”

Setelah saya kembali, saya sadar kalau Tuhan sayang sama saya, teman-teman saya sayang sama saya. Dan masih ada orang-orang yang sayang sama saya. Saya tidak sendiri. Mungkin saya akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik karena berhasil melewati semuanya. Lagian pacar saya nggak akan kembali atau berubah jadi the beast kalau saya malah mencaci maki dia. Saya tetap sayang. Karena saya sadar kalau bagaimanapun dia pernah mengisi hari-hari saya yang indah. Take Care yah, say…

So, Men are from mars and women are from venus? I don’t think so. We are from GOD Actually…

My Lovely Jojo

Syenangnya melihat Jojo sudah sembuh. Setelah hampir satu bulan saya merasa tersiksa hidup tanpa dia. Dan selama tiga hari saya melihat dia belum siuman meskipun dokter itu sudah berusaha mati-matian untuk membuat Jojo siuman. Sewaktu saya dikabarkan bahwa Jojo sudah sembuh, saya langsung menjemput di Rumah Sakit. Saya melihat Jojo sudah sehat meskipun masih banyak bekas plester di bagian kiri tubuhnya. Tato temporary yang pernah saya buat di tubuh Jojo mulai pudar. Maka saya berpikir untuk menggambar tato baru untuknya. Tapi tato bertuliskan nama saya di kaki Jojo masih terlihat bagus. Dan saya sangat bahagia… Kami saling kangen-kangenan ketika tiba di rumah. Saya memeluknya dan menciumnya berkali-kali. Saya begitu bahagia. Ia menemani saya bercerita sambil meminum cappucino hangat di malam hari. Hingga pagi hari, saya masih belum berhenti bercerita. Dan dia masih menjadi pacar yang paling setia menemani saya. Ia tak pernah marah, tidak pernah selingkuh, dan selalu bisa menerima saya apa adanya. Walau seringkali saya membangunkannya di tengah malam untuk menemani saya ketika ia sedang tertidur lelap. Jojo selalu menerima bagaimana pun keadaan saya ketika bertemu dengannya. Mau bangun tidur, belum mandi, atau acak-acakan, dia tetap memperlakukan saya sebagaimana biasanya. Ketika malam itu saya tertidur, saya pun tertidur di sebelahnya. Nggak ada rahasia diantara kita. Dia tau semua rahasia saya. Bahkan sampai hal terkecilpun. Ia penyimpan rahasia yang baik. Dia nggak pernah sombong. Nggak pernah pamer kalau dia berkulit putih dan lebih cerdas dibanding saya. Dia sangat membantu saya dalam bekerja dan menuangkan ide-ide cemerlang. Kita selalu menghabiskan waktu berdua dimanapun. Kita sering banget berlibur bersama ke luar kota bahkan keluar negeri. Jojo sudah mengenal kedua orang tua saya dengan baik. Bahkan ia telah membantu papa mengerjakan pekerjaan kantornya. Membantu kakak, bahkan menemani mama bermain. Jojo sangat menyenangkan. Iya pun yang membantu saya memperoleh pekerjaan yang baik. Ia pasangan pembawa rejeki. Wajar saja kalau teman-teman saya banyak yang mengagumi dirinya. Oiya, dia memiliki banyak barang keren-keren looh. Barang-barang yang bisa membuat saya betah berlama-lama bersamanya. Bahkan mempermudah saya dalam melakukan pekerjaan saya. Disini saya menyadari kalau saya tidak bisa hidup tanpa dia. Semoga kamu nggak sakit lagi ya, Jojo sayang….I really really love you, Jo! (NB : Maaf kemarin lupa di charge. Baterei kamu habis yach, Jo? Dasar Laptop pemalas! hihihi…)