Archives

now browsing by author

 

Mengajar untuk Belajar

Ada hal yang sangat menyenangkan yang dimulai tahun lalu di kehidupan saya. Yap, akhirnya saya mengajar. Yippieee… Cita-cita yang udah lama saya impikan.Mengajar.

Sebetulnya ada yang agak melenceng dari perkiraan saya. Tadinya saya berpikir kepingin jadi guru TK atau SD atau sukur-sukur bisa dikirim ke daerah terpencil untuk mengajar di sana. Tapi, jreng…jreng… Ternyata saya dipilih Tuhan untuk mengajar mahasiswa alias jadi dosen. Alhamdulillah…

Menjadi dosen bukan perkara gampang untuk saya yang notabene berasal dari wilayah praktisi, bukan akademisi. Beruntung mahasiswa/i yang saya ajar asik-asik dan pinter-pinter. Mereka teman diskusi yang menyenangkan. Bikin saya ketawa terus dengan kelakuan-kelakuan mereka. Saya bilang namanya simbiosis mutualisme. Mereka belajar dan saya pun belajar dari mereka.

Melihat mahasiswa- mahasiswi saya, bikin saya introspeksi diri. Kenapa? Karena mereka bikin saya sadar kalo dulu zamannya jadi mahasiswa, saya tuh ternyata badung banget yak! Dan ternyata dosen itu tahu lho badung-badung lucunya mahasiswa. Cuma kadang mereka lebih milih untuk diam karena nggak tega atau memegang prinsip ‘cukup tau aja’. Sepertinya saya sedang melakukan penebusan dosa waktu jadi mahasiswi hahaha… (Atau kena karma) *Huufft banget.

Anyway, memeriksa ujian mahasiswa adalah moment terberat yang saya alami.Kenapa? Karena sebisa mungkin saya harus objektif. Trus rasanya juga nggak enak banget kalau nilai mahasiswa saya jelek-jelek. Karena bikin saya mikir, “Ini saya yang nggak bisa ngajar, atau emang mereka yang males belajar ya?” Asli sedih banget. Belum lagi saya orang yang paling nggak tegaan.

Tapi balik lagi, saya harus belajar. Kalo mahasiswa saya nulis jawaban salah, ya itu kewajiban saya untuk kasih tahu kalau itu salah. Sehingga untuk ke depannya mereka belajar dan tahu jawaban yang benar. Itu gunanya belajar.Itu gunanya kuliah. Untuk mempelajari kesalahan. Kalau semua mahasiswa saya nggak pernah salah, nggak pernah dapet nilai jelek, nggak pernah diomelin dosen, ya nggak perlu mereka capek2 kuliah. Se-simple itu.

Apa yang membuat mereka merasa tertekan di kampus, sebenarnya itu adalah latihan terhebat mereka untuk menghadapi dunia kerja yang jauuuuh lebih ‘sadis’. Tugas kuliah adalah representasi dari brief di kantor dan ujian semester adalah cerminan dari deadline kantor. Percaya deh, dengan menjalankan kuliah dengan enjoy dan disiplin. Ngadepin politik kantor jadi gak terlalu merepotkan. Karena mental mereka udah terlatih.

Saya menutup kuliah terakhir saya dengan segenap doa dan harapan untuk mahasiswa saya. Semoga kalian tetep jadi manusia yang asik, kritis, dan sukses. Jadilah orang baik. Dan terima kasih udah jadi mahasiswa-mahasiswi saya yang kece banget!

Sepertinya saya ketagihan mengajar.
Karena mengajar adalah cara kita untuk tetap belajar.

Doa di Hari Perpisahan

Hari ini setahun yang lalu, menyadarkan saya pada satu kenyataan:

Bahwa kebahagiaan dan kesedihan sebetulnya sama saja.
Hanya perlakuannya saja yang berbeda.
Dan pada akhirnya…
Manusia butuh lupa untuk menghapus luka.

Happy Anniversary ya …
Jangan cengeng dengan dunia.
Jaga kesadaranmu dalam kesepian yang menyelimutimu.

Semoga kamu terima doa yang terbawa angin pagi ini..
Untuk kamu…
Yang telah pergi dan menghilang…

Malaikat Maut itu bernama Manusia

Dari lahir tinggal di jakarta membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang (menurut saya) keras kepala. Maklumlah, jakarta keras cuiy! (Halah!)
Tapi bener lho, di kota ini orang salah bisa berlagak bener.Asal punya nyali.Dan yang sadisnya, kadang orang bener justru malah terintimidasi.
Tapi bagaimanapun, saya lahir, tumbuh, dan bekerja di jakarta. Kalo gak puas sama jakarta, ya pindah aja ke kota lain.Tapi kalo emang ‘terpaksa’ ya anggap aja Jakarta itu penghidupan, bukan kehidupan.
Ngomongin soal kejahatan di jakarta, kayaknya nggak bakalan habis kalo harus ditulis cuma dalam satu potingan aja. Banyak manusia yang mulai merasa kayak malaikat maut bisa mengambil nyawa manusia lain.’Nyawa’ yang saya maksud di sini bukan cuma ‘soul’ tapi bisa sumber mata pencarian, keluarga, harta, sahabat, atau apapun yang bernilai untuk manusia itu sendiri. Kadang si ‘malaikat maut’ itu bukan seseorang yang levelnya di bawah si korban.Bisa jadi justru jauh di atas si korban. merasa punya kekuasaan dan akhirnya ‘dash!’ Mereka mengambil ‘nyawa’ korbannya. Astaghfirullah, saya nggak habis pikir kok ada orang kayak begitu di dunia ini. Tapi itulah yang terjadi di dunia ini. Serem ya?
Setan pasti ketawa-ketawa ngeliat itu semua terjadi pada makhluk yang katanya punya derajat paling mulia di antara semua makhluk yang diciptakan Tuhan YME.
Saya pernah difitnah orang. 1st time bingung juga.Orang saya nggak ngelakuin apa yg orang itu sebut kok.Tapi sayangnya setelah lama saya diem aja nanggepinnya, fitnah itu makin menjadi-jadi tanpa jelas tujuan orang itu apa ke saya.Lama-lama saya panas juga kebawa emosi.Tapi untungnya banyak sahabat-sahabat saya yang bilangin dan bikin saya mikir panjang banget. Mungkin yang dilakukan orang itu bukan karena sebuah kebencian aja.Tapi bisa jadi dia hanya iri.Saya anggap dia memiliki penyakit hati. Kalo saya sakit hati karena ucapan atau fitnahnya, saya cuma bisa berdoa supaya Tuhan menyembuhkan penyakit hatinya.Karena biar bagaimanapun, yang tahu kebenaran sebenar-benarnya dan yang berhak membalas atas baik-buruk perilaku manusia itu cuma Tuhan.Manusia nggak punya hak untuk balas dendam. *itu kata saya lho*

Size doesn’t matter

“Badan lo enak banget ya, kecil. Jadi mau ngapa-ngapain gampang.”

Begitu kira-kira kalimat yang sering saya dengar dari mulut teman-teman saya. Satu sisi bersyukur karena dengan tubuh mini seperti ini saya masih diberikan kesehatan. Tapi di sisi lain, ada banyak hal yang nggak kalian ketahui mengenai orang-orang bertubuh mini seperti saya.

Dari dulu saya sering berkata pada teman-teman untuk bersyukur bagaimana pun bentuk tubuhnya. Mau ukuran besar ataupun kecil. Yang terpenting itu adalah kesehatan. Buat apa bertubuh indah tapi sakit-sakitan? atau mungkin yang lebih ekstrim lagi, buat apa bertubuh indah tapi nggak bahagia?

Ketahuilah bahwa memiliki tubuh mini seperti saya nggak selalu menyenangkan.Saya sering diremehkan orang karena dianggap anak kecil.Baik secara pemikiran ataupun kekuatan fisik.Yang jelas,saya harus bekerja keras dua kali lipat dari pada orang-orang yang bertubuh besar hanya untuk sebuah pengakuan. Saya juga kesulitan menemukan pakaian wanita yang cukup proposional untuk saya. Saya lebih sering mencari di bagian khusus anak-anak.

…sedih….

Tapi lebih sedih lagi ketika mengetahui banyak teman-teman saya yang bertubuh besar justru sangat ingin memiliki tubuh mini seperti saya. Banyak dari mereka yang rela diet habis-habisan bahkan sampai tersiksa karena menu makanan yang penuh dengan peraturan yang jumlahnya melebihi UUD 45. Akibat diet ketat itu banyak yang jatuh sakit.

Dari situ saya sadar emang manusia nggak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Merasa bahwa milik orang lain lebih bagus dibandingkan milik dirinya sendiri.

Mungkin ada baiknya mengenal tubuh kita lebih baik agar kita bisa lebih mencintai milik kita. Mungkin bisa dimulai dengan pertanyaan: ‘apa gue sehat?’, ‘apa ada masalah di organ tubuh gue?’ Dari situ baru kita bisa lebih fair sama tubuh kita.Kita tahu mana yang harus kita perbaiki tanpa harus memaksa tubuh kita mengalami ‘penyiksaan’ berlebih.

Udah tau kan kalo sekarang model-model catwalk sudah dilarang untuk melakukan diet ketat dan badan-badan model victoria secret terlihat lebih sehat-bugar? Karena mereka nemuin teori baru dalam menjaga keindahan tubuh: Pola hidup sehat

Seperti apapun bentuk tubuhmu, bersyukur itu penting banget.Menjaga kesehatan tubuh itu termasuk cara bersyukur.Kalo dengan pola hidup sehat tubuh kamu terlihat lebih kurus/ gemuk anggaplah itu bonus….

Saatnya Bercerita

Oke, saya harus jujur sama kalian. Setelah sekian lama nggak menulis tulisan panjang, tiba-tiba tangan saya udah mulai kaku mengetik dengan laptop. Saya pun merasa kemampuan menulis saya menurun. Isi kepala saya rasanya mau pecah. Njlimet. Tanpa ketahuan di mana ujungnya.
Banyak sekali peristiwa yang terjadi dari sejak terakhir kali saya menulis blog. Tapi bingung harus cerita yang mana dulu ke kalian. Banyak hal menarik yang terjadi. Rasanya semua-semuanya pengen banget saya tuangkan ke dalam blog. Tapi kayaknya hal pertama yang harus saya lakukan adalah menyusun potongan-potongan peristiwa itu perlahan-lahan agar nggak bikin saya mendadak pengen bunuh diri saking pusingnya hahaha….

Sudah hampir dua tahun saya nggak nulis blog.Bukannya ngeles, tapi kayaknya saya lagi dalam masa perenungan panjang (Tsahelaah!) Banyak hal-hal yang membuat saya berpikir dalam-dalam tentang hidup. Sampai pada sebuah pertanyaan tentang… “Kenapa saya masih hidup sampai sekarang?”

Pernah nggak sih kalian berpikir seperti itu?
I mean, pernah nggak sih kalian bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan Tuhan membiarkan kita untuk tetap berada di dunia?
Seorang kawan pernah bilang, “Kalo lo masih hidup di dunia, itu tandanya rejeki lo masih ada, pelajaran hidup lo masih kurang banyak, atau kebahagiaan lo masih ada yang belum terwujud.”
Apapun itu. Yang jelas, ada alasan penting yang Tuhan miliki untuk setiap makhluknya yang masih bernafas.

Kemarin, publik dikejutkan dengan kematian seorang aktor luar biasa, Robin William ~yang menurut Paris Hilton dia adalah seorang penyanyi, I think she was drunk! :))~ Agak terkesima ketika menyadari bahwa orang sekeren Robin William dengan karier menjulang aja bisa sampai bunuh diri. Apa yang membuat dia begitu ingin pergi meninggalkan dunia? Bukan saya aja yang kaget, semua orang, di seluruh dunia, bahkan untuk seekor Gorilla bernama popo (forgive me if i’m wrong) kaget atas berita kepergiannya.

Kasus Robin William menyadarkan saya pada satu hal, bahwa setiap manusia pasti punya masalah. Baik yang terlihat atau pun yang dipendam sendiri. Dan dalam hal ini, ada sesuatu yang terlihat ‘kecil’ tapi ternyata memberikan dampak yang cukup besar kepada kehidupan individu. Bercerita. Ya, bercerita pada orang lain, buku diari, atau blog ternyata menjadi penting di tengah masalah-masalah ruwet yang dihadapi manusia. Hal simple, tapi menurut saya akan mampu mengurangi angka bunuh diri di seluruh dunia.

Jadi…
berceritalah…
Selagi bisa…
Dan mungkin….
Robin William….
Lupa untuk…bercerita.