Archives

now browsing by author

 

Doa di Hari Perpisahan

Hari ini setahun yang lalu, menyadarkan saya pada satu kenyataan:

Bahwa kebahagiaan dan kesedihan sebetulnya sama saja.
Hanya perlakuannya saja yang berbeda.
Dan pada akhirnya…
Manusia butuh lupa untuk menghapus luka.

Happy Anniversary ya …
Jangan cengeng dengan dunia.
Jaga kesadaranmu dalam kesepian yang menyelimutimu.

Semoga kamu terima doa yang terbawa angin pagi ini..
Untuk kamu…
Yang telah pergi dan menghilang…

Malaikat Maut itu bernama Manusia

Dari lahir tinggal di jakarta membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang (menurut saya) keras kepala. Maklumlah, jakarta keras cuiy! (Halah!)
Tapi bener lho, di kota ini orang salah bisa berlagak bener.Asal punya nyali.Dan yang sadisnya, kadang orang bener justru malah terintimidasi.
Tapi bagaimanapun, saya lahir, tumbuh, dan bekerja di jakarta. Kalo gak puas sama jakarta, ya pindah aja ke kota lain.Tapi kalo emang ‘terpaksa’ ya anggap aja Jakarta itu penghidupan, bukan kehidupan.
Ngomongin soal kejahatan di jakarta, kayaknya nggak bakalan habis kalo harus ditulis cuma dalam satu potingan aja. Banyak manusia yang mulai merasa kayak malaikat maut bisa mengambil nyawa manusia lain.’Nyawa’ yang saya maksud di sini bukan cuma ‘soul’ tapi bisa sumber mata pencarian, keluarga, harta, sahabat, atau apapun yang bernilai untuk manusia itu sendiri. Kadang si ‘malaikat maut’ itu bukan seseorang yang levelnya di bawah si korban.Bisa jadi justru jauh di atas si korban. merasa punya kekuasaan dan akhirnya ‘dash!’ Mereka mengambil ‘nyawa’ korbannya. Astaghfirullah, saya nggak habis pikir kok ada orang kayak begitu di dunia ini. Tapi itulah yang terjadi di dunia ini. Serem ya?
Setan pasti ketawa-ketawa ngeliat itu semua terjadi pada makhluk yang katanya punya derajat paling mulia di antara semua makhluk yang diciptakan Tuhan YME.
Saya pernah difitnah orang. 1st time bingung juga.Orang saya nggak ngelakuin apa yg orang itu sebut kok.Tapi sayangnya setelah lama saya diem aja nanggepinnya, fitnah itu makin menjadi-jadi tanpa jelas tujuan orang itu apa ke saya.Lama-lama saya panas juga kebawa emosi.Tapi untungnya banyak sahabat-sahabat saya yang bilangin dan bikin saya mikir panjang banget. Mungkin yang dilakukan orang itu bukan karena sebuah kebencian aja.Tapi bisa jadi dia hanya iri.Saya anggap dia memiliki penyakit hati. Kalo saya sakit hati karena ucapan atau fitnahnya, saya cuma bisa berdoa supaya Tuhan menyembuhkan penyakit hatinya.Karena biar bagaimanapun, yang tahu kebenaran sebenar-benarnya dan yang berhak membalas atas baik-buruk perilaku manusia itu cuma Tuhan.Manusia nggak punya hak untuk balas dendam. *itu kata saya lho*

Size doesn’t matter

“Badan lo enak banget ya, kecil. Jadi mau ngapa-ngapain gampang.”

Begitu kira-kira kalimat yang sering saya dengar dari mulut teman-teman saya. Satu sisi bersyukur karena dengan tubuh mini seperti ini saya masih diberikan kesehatan. Tapi di sisi lain, ada banyak hal yang nggak kalian ketahui mengenai orang-orang bertubuh mini seperti saya.

Dari dulu saya sering berkata pada teman-teman untuk bersyukur bagaimana pun bentuk tubuhnya. Mau ukuran besar ataupun kecil. Yang terpenting itu adalah kesehatan. Buat apa bertubuh indah tapi sakit-sakitan? atau mungkin yang lebih ekstrim lagi, buat apa bertubuh indah tapi nggak bahagia?

Ketahuilah bahwa memiliki tubuh mini seperti saya nggak selalu menyenangkan.Saya sering diremehkan orang karena dianggap anak kecil.Baik secara pemikiran ataupun kekuatan fisik.Yang jelas,saya harus bekerja keras dua kali lipat dari pada orang-orang yang bertubuh besar hanya untuk sebuah pengakuan. Saya juga kesulitan menemukan pakaian wanita yang cukup proposional untuk saya. Saya lebih sering mencari di bagian khusus anak-anak.

…sedih….

Tapi lebih sedih lagi ketika mengetahui banyak teman-teman saya yang bertubuh besar justru sangat ingin memiliki tubuh mini seperti saya. Banyak dari mereka yang rela diet habis-habisan bahkan sampai tersiksa karena menu makanan yang penuh dengan peraturan yang jumlahnya melebihi UUD 45. Akibat diet ketat itu banyak yang jatuh sakit.

Dari situ saya sadar emang manusia nggak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Merasa bahwa milik orang lain lebih bagus dibandingkan milik dirinya sendiri.

Mungkin ada baiknya mengenal tubuh kita lebih baik agar kita bisa lebih mencintai milik kita. Mungkin bisa dimulai dengan pertanyaan: ‘apa gue sehat?’, ‘apa ada masalah di organ tubuh gue?’ Dari situ baru kita bisa lebih fair sama tubuh kita.Kita tahu mana yang harus kita perbaiki tanpa harus memaksa tubuh kita mengalami ‘penyiksaan’ berlebih.

Udah tau kan kalo sekarang model-model catwalk sudah dilarang untuk melakukan diet ketat dan badan-badan model victoria secret terlihat lebih sehat-bugar? Karena mereka nemuin teori baru dalam menjaga keindahan tubuh: Pola hidup sehat

Seperti apapun bentuk tubuhmu, bersyukur itu penting banget.Menjaga kesehatan tubuh itu termasuk cara bersyukur.Kalo dengan pola hidup sehat tubuh kamu terlihat lebih kurus/ gemuk anggaplah itu bonus….

Saatnya Bercerita

Oke, saya harus jujur sama kalian. Setelah sekian lama nggak menulis tulisan panjang, tiba-tiba tangan saya udah mulai kaku mengetik dengan laptop. Saya pun merasa kemampuan menulis saya menurun. Isi kepala saya rasanya mau pecah. Njlimet. Tanpa ketahuan di mana ujungnya.
Banyak sekali peristiwa yang terjadi dari sejak terakhir kali saya menulis blog. Tapi bingung harus cerita yang mana dulu ke kalian. Banyak hal menarik yang terjadi. Rasanya semua-semuanya pengen banget saya tuangkan ke dalam blog. Tapi kayaknya hal pertama yang harus saya lakukan adalah menyusun potongan-potongan peristiwa itu perlahan-lahan agar nggak bikin saya mendadak pengen bunuh diri saking pusingnya hahaha….

Sudah hampir dua tahun saya nggak nulis blog.Bukannya ngeles, tapi kayaknya saya lagi dalam masa perenungan panjang (Tsahelaah!) Banyak hal-hal yang membuat saya berpikir dalam-dalam tentang hidup. Sampai pada sebuah pertanyaan tentang… “Kenapa saya masih hidup sampai sekarang?”

Pernah nggak sih kalian berpikir seperti itu?
I mean, pernah nggak sih kalian bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan Tuhan membiarkan kita untuk tetap berada di dunia?
Seorang kawan pernah bilang, “Kalo lo masih hidup di dunia, itu tandanya rejeki lo masih ada, pelajaran hidup lo masih kurang banyak, atau kebahagiaan lo masih ada yang belum terwujud.”
Apapun itu. Yang jelas, ada alasan penting yang Tuhan miliki untuk setiap makhluknya yang masih bernafas.

Kemarin, publik dikejutkan dengan kematian seorang aktor luar biasa, Robin William ~yang menurut Paris Hilton dia adalah seorang penyanyi, I think she was drunk! :))~ Agak terkesima ketika menyadari bahwa orang sekeren Robin William dengan karier menjulang aja bisa sampai bunuh diri. Apa yang membuat dia begitu ingin pergi meninggalkan dunia? Bukan saya aja yang kaget, semua orang, di seluruh dunia, bahkan untuk seekor Gorilla bernama popo (forgive me if i’m wrong) kaget atas berita kepergiannya.

Kasus Robin William menyadarkan saya pada satu hal, bahwa setiap manusia pasti punya masalah. Baik yang terlihat atau pun yang dipendam sendiri. Dan dalam hal ini, ada sesuatu yang terlihat ‘kecil’ tapi ternyata memberikan dampak yang cukup besar kepada kehidupan individu. Bercerita. Ya, bercerita pada orang lain, buku diari, atau blog ternyata menjadi penting di tengah masalah-masalah ruwet yang dihadapi manusia. Hal simple, tapi menurut saya akan mampu mengurangi angka bunuh diri di seluruh dunia.

Jadi…
berceritalah…
Selagi bisa…
Dan mungkin….
Robin William….
Lupa untuk…bercerita.

Saya, Trupala, dan Indonesia

Hari itu, saya sedang membereskan lemari pakaian ketika melihat sebuah jaket orange bernomor dada Tr.026/01 tergantung manis di sana. Jaket itu tiba-tiba langsung menarik saya pada kenangan-kenangan luar biasa sewaktu SMU dulu. Ya, kenangan saya dengan sebuah organisasi pecinta alam bernama Trupala. Organisasi yang konon terdengar ‘menyeramkan’ jika disebutkan di dalam lingkungan SMU saya pada waktu itu.

Postingan kali ini saya mau bercerita tentang Trupala dari kacamata saya. Harus saya akui, kalau Trupala menjadi bagian yang nggak terpisahkan dari hidup saya.Banyak hal-hal besar yang saya pelajari dari organisasi itu.Hal-hal besar yang (bodohnya) baru saya sadari ketika usia saya saat ini.

Saya masuk jadi anggota Trupala pada tahun 2001. Tepat ketika saya masih jadi junior paling piyik di sekolah.Alias anak kelas satu. Waktu itu saya nggak tahu kalau Trupala bukan salah satu ekskul di sekolah, tapi memang sebuah organisasi mandiri yang anggotanya adalah anak-anak SMU saya. Yang membuat saya penasaran dengan organisasi ini pertama kali adalah JAKET ORANGE yang entah kenapa bikin orang jadi kelihatan keren kalau mengenakannya (ehem!).

Saya ingat betul bagaimana para anggotanya begitu membela jaket tersebut mati-matian dari razia guru atau apapun bentuk pelecehan dari pihak tertentu.Dan pertanyaan pun muncul di benak saya waktu itu. Di benak seorang anak baru yang tidak populer dan sangat ringkih ini. Apa sih keistimewaan jaket itu?

Dan ketika saya resmi masuk ke dalam anggota organisasi pecinta alam tersebut, saya tahu jawabannya. Jaket itu magis. Ya, MAGIS…

Butuh usaha luarbiasa ketika harus meminta ijin kepada orang tua saya waktu itu untuk mengikuti pendidikan dasar Trupala, syarat yang harus dipenuhi untuk masuk menjadi anggota. Terdengar menyeramkan memang. Belum lagi gosip-gosip ‘kurang cerdas’ yang beredar mengenai pendidikan dasar itu. Gosip yang bikin hati semua orang tua di dunia ini ketar-ketir membiarkan anaknya ikut pendidikan dasar Trupala.

Tapi saya masih ingat kata-kata mama waktu itu ketika mengijinkan saya pergi. Mama bilang, “Mama percaya kamu bisa jaga diri, dan mama percaya mereka (Trupala). Mama yakin kamu bisa belajar banyak dari didas (pendidikan dasar) ini.”

Dan akhirnya berangkatlah saya ke Gunung Salak bersama 47 calon anggota Trupala lainnya dengan membawa perlengkapan naik gunung LENGKAP! Laki-laki dan perempuan nggak ada bedanya.Cakep banget kan tuh hidup? Dari mulai carrier,misting,p3k,ponco, matras, kompor parafin,bahan makanan,dan lain sebagainya. Kebayang kan, bagaimana wujud saya yang memiliki badan mini ini harus menggendong carrier 70 lt berisi segala perlengkapan itu ke gunung salak?tapi saya nekad. Ya, cuma itu modal saya. Nekad dan tekad *wooosaaah ciiiiaaattttt!

Setelah melewati tiga hari dua malam yang…. Hmmm…. Yaah…. Gitu deh ahahaha… Pokoknya luar biasa deh kalau diceritain.Nggak bakalan cukup kalau harus ditulis di blog.Mendingan kalian ketemu saya terus minta saya ceritain.Nanti bakalan saya ceritain selama tiga hari tiga malam, gimana waktu pendidikan dasar hahaha….

Akhirnya, sampai juga saya mengenakan jaket orange kebanggaan Trupala itu. Dan benar, jaket itu magis. Segala bentuk pengalaman selama pendidikan dasar dan hasil yang diperoleh setelahnya, jelas terasa di dalam hati dan otak saya ketika mengenakan jaket itu. Jaket itu bercerita… melalui memori….

Dari Trupala saya mempelajari dan menyadari banyak hal. Bukan saya sok ceramah atau apapun, tapi Trupala memang membuat saya introspeksi diri. Menyadari kalau manusia itu sangat kecil.Nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan Tuhan yang menciptakan alam raya ini. Jadi jangan sombong jadi manusia. Trupala mengajak saya melihat itu semua. Bercermin pada gunung, tebing, hutan, lautan, goa, sungai, dan danau yang diciptakan Tuhan luar biasa indahnya. Trupala mengajak saya melihat Indonesia, dari kacamata yang berbeda..

Trupala menjunjung tinggi arti persaudaraan yang sebenar-benarnya. Hubungan senior-junior sangat dekat karena merasa satu keluarga. Bahkan untuk jarak yang lumayan jauh (bisa saya panggil kakek:). Berkelompok-kelompok kecil itu biasa, karena nggak mungkin menyamaratakan pemikiran ratusan anggota.Tapi yang kami tahu, kami tetap satu keluarga. Kami mengalami perjuangan besar untuk berada dalam keluarga besar Taruna Pecinta Alam.

Pada akhirnya saya sadar kalau jaket orange itu adalah sebuah simbol tanggung jawab besar. Nomor yang terpatri di dada anggota adalah sebuah amanat. Bahwa kelebihan dan ketrampilan yang dimiliki karena belajar dari organisasi bukan untuk pamer atau gaya-gayaan. Tapi justru merupakan tanggung jawab untuk selalu menjaga dan memelihara alam semesta. Serta untuk membantu sesama. Ya, Trupala membuka mata saya bahwa orang biasa seperti saya bisa berguna juga.Ternyata hidup saya bisa juga bernilai untuk orang lain. Saya menyadarinya ketika ikut andil dalam posko banjir Trupala sewaktu SMU dulu. Dimana Trupala membantu para korban yang terjebak di rumah mereka karena banjir besar melanda Ibukota.Saya menyadarinya ketika seorang renta dari salah satu korban banjir menjabat tangan saya dan mengucapkan kata terima kasih dengan mata berbinar. Saya terharu…. (*lap umbel)

Setelah peristiwa itu, sudah lama saya nggak mengikuti perkembangan Trupala karena kesibukan pekerjaan dan kuliah saya setelah lulus SMU.Hanya update berita melalui fb dan datang ketika acara-acara besar saja.Jaket pun entah kemana. Tapi berita tragedi pesawat Sukhoi Superjet di televisi beberapa waktu yang lalu kembali menegakkan sandaran saya.

Segenap rasa hormat dan kebanggaan luar biasa saya tujukan kepada senior Trupala, ketika mengetahui bahwa Trupala merupakan salah satu dari tim gabungan yang pertama kali menemukan bangkai dan korban pesawat tersebut. Ditengah kesedihan keluarga korban, bahkan mungkin seluruh masyarakat Indonesia, yang menunggu kepastian kondisi korban. Dari mulai orang-orang yang berada di tengah kemacetan, di cafe, di rumah, di kantor, atau di sebuah warung kopi pinggiran, semua berharap adanya keajaiban. Trupala Ikut andil menjawab kekalutan mereka. Trupala masih ada! Trupala masih bernafas… Untuk alam… Untuk sesama manusia… Untuk Indonesia….

Lepas dari dengan atau tidak bersama Trupala, saya masih aktif menjelajah alam. Terkadang naik gunung bareng teman-teman kampus, memanjat dengan beberapa kenalan, atau sekedar snorkling dengan teman-teman satu hobi. Terima kasih Trupala karena telah memperkenalkan saya dengan itu semua.

Terima kasih karena telah memperkenalkan indahnya alam Indonesia, dari menyentuh embun pagi gunung salak, menghirupnya, dan membiarkan semuanya tersimpan di dalam hati. Terima kasih karena mengajari saya tentang kehangatan persaudaraan dari sebuah genggaman tangan ketika kaki ini kesulitan menanjak bebatuan untuk mencapai puncak. Dan terima kasih telah mengajari saya bagaimana menghargai, dan berharga untuk orang lain hanya dengan sebuah kalimat semangat ketika salah satu diantara kami nyaris menyerah di pendidikan dasar. Terima kasih karena telah membuat saya percaya, bahwa tubuh mini saya ini ternyata sanggup menjejakkan kaki di puncak-puncak pegunungan. Melihat dengan mata kepala saya sendiri kekuasaan maha dahsyat Sang Pencipta.

Untuk mengakhiri postingan saya kali ini, saya ingin mengutip sebuah paragraf yang saya tulis di novel baru saya (*jiaaah) yang Insya Allah akan terbit tahun depan:

“Seorang bijak pernah berkata, dakilah gunung-gunung tinggi, melangkahlah di hutan-hutan, telusurilah goa-goa, jamahlah tanah di lembah, panjatlah batang-batang pepohonan, dan rasakan air di lautan karena mereka adalah guru-guru terbaik yang diciptakan Tuhan untuk mengajarimu…”

Salam,
Dyan Nuranindya
Tr.026/01